Jumat, 19 April 2013

Biografi Dua Guru dari K.H. Noer Alie

 (Guru Marzuki dan Syeikh Ali al-Maliki)

 
KH. Ahmad Marzuki al-Betawi (1293 – 1353 H/1876 – 1934 M)
Nama lengkap beliau adalah “Ahmad Marzuki bin Syekh Ahmad al-Mirshad bin Khatib Sa’ad bin Abdul Rahman al-Batawi”. Ulama terkemuka asal Betawi yang bermazhab Syafi’i dan populer dengan sebutan Guru Marzuki ini lahir dan besar di Batavia (Betawi). Ayahnya, Syekh Ahmad al-Mirshad, merupakan keturunan keempat dari kesultanan Melayu Patani di Thailand Selatan yang berhijrah ke Batavia. Guru Marzuki dilahirkan pada bulan Ramadhan tahun 1293 H/1876 M di Meester Cornelis, Batavia.

Masa Pertumbuhan dan Menuntut Ilmu

Pada saat berusia 9 tahun, Guru Marzuki ditinggal wafat ayahnya. Pengasuhannya pun beralih ke tangan ibunya yang dengan penuh kasih sayang membina sang putra dengan baik. Pada usia 12 tahun, Marzuki dikirim oleh sang ibu kepada seorang ahli fikih bernama Haji Anwar untuk memperdalam Al-Qur’ân dan ilmu-ilmu dasar bahasa Arab. Guru Marzuki kemudian melanjutkan pelajarannya mengaji kitab-kitab klasik (turats) dibawah bimbingan seorang ulama Betawi, Sayyid Usman bin Muhammad Banahsan. Melihat ketekunan dan kecerdasan Marzuki-muda, sang guru pun merekomendasikannya untuk berangkat ke Mekah al-Mukarramah guna menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu. Guru Marzuki yang saat itu berusia 16 tahun pun kemudian bermukim di Mekah selama 7 tahun.

Guru-guru di Haramain

Selama tidak kurang dari 7 tahun, hari-harinya di Tanah Suci dipergunakan Guru Marzuki dengan baik untuk beribadah dan menimba ilmu dari para ulama terkemuka di Haramain. Ulama Haramain yang sempat membimbing Guru Marzuki, antara lain: Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Radhwan al-Madani (w. 1329 H.), Syekh Umar Bajunaid al-Hadhrami (w. 1354 H.), Syekh Abdul karim al-Daghistani, Syekh Mukhtar bin Atharid al-Bogori (w. 1349 H), Syekh Ahmad al-Khatib al-Minangkabawi (w. 1337 H.), Syekh Umar al-Sumbawi, Syekh Mahfuzh al-Termasi (w. 1338 H.), Syekh Sa’id al-Yamani (w. 1352 H), Syekh Shaleh Bafadhal, Syekh Umar Syatta al-Bakri al-Dimyathi (w. 1331 H.), Syekh Muhammad Ali al-Maliki (w. 1367 H.) dan lain-lain.

Ilmu yang dipelajarinya pun bermacam-macam, mulai dari nahwu, shorof, balaghah (ma‘ani, bayan dan badi‘), fikih, ushul fikih, hadits, mustholah hadits, tafsir, mantiq (logika), fara’idh, hingga ke ilmu falak (astronomi). Dalam bidang tasawuf, guru Marzuki memperoleh ijazah untuk menyebarkan tarekat al-‘Alawiyah dari Syekh Umar Syatta al-Bakri al-Dimyathi (w. 1331 H.) yang memperoleh silsilah sanad tarekatnya dari Syekh Ahmad Zaini Dahlan (w. 1304 H/1886 M.), Mufti Syafi’iyyah di Mekah al-Mukarramah.

Dalam disertasi doktoralnya di Fak. Darul Ulum, Cairo University (hal. 63 – 66), Daud Rasyid memasukkan Guru Marzuki sebagai salah seorang pakar hadits Indonesia yang sangat berjasa dalam penyebaran hadits-hadits nabi di Indonesia dan menjaga transmisi periwayatan sanadnya.

Sistem Mengajar dan Para Muridnya

Sesudah kembali ke tanah air, atas permintaan Sayid Usman Banahsan, Guru Marzuki mengajar di masjid Rawabangke selama lima tahun, sebelum pindah dan menetap di Cipinang Muara. Di sinilah ia merintis berdirinya pesantren di tanah miliknya yang cukup luas. Santri yang mondok di sini memang tidak banyak, ditaksir sekitar 50 orang dan terutama datang dari wilayah utara dan timur Jakarta (termasuk Bekasi).

Cara mengajar Guru Marzuki kepada muridnya tidak lazim di masa itu, yaitu sambil berjalan di kebun dan berburu bajing (tupai). Ke mana sang guru melangkah, ke sana pula para murid mengikutinya dalam formasi berkelompok. Setiap kelompok murid biasanya terdiri dari empat atau lima orang yang belajar kitab yang sama, satu orang di antaranya bertindak sebagai juru baca. Sang guru akan menjelaskan bacaan murid sambil berjalan. Setiap satu kelompok selesai belajar, kelompok lain yang belajar kitab lain lagi menyusul di belakang dan melakukan hal yang sama seperti kelompok sebelumnya.

Mengajar dengan cara duduk hanya dilakukan oleh Guru Marzuki untuk konsumsi masyarakat umum di masjid. Meskipun demikian, anak-anak santrinya secara bergiliran membacakan sebagian isi kitab untuk sang guru yang memberi penjelasan atas bacaan muridnya itu. Para juru baca itu kelak tumbuh menjadi ulama terpandang di kalangan masyarakat Betawi dan sebagian mereka membangun lembaga pendidikan yang tetap eksis sampai sekarang, seperti KH. Noer Alie (pendiri Pesantren Attaqwa, Bekasi), KH. Mukhtar Thabrani (pendiri Pesantren An-Nur, Bekasi), KH. Abdul malik (putra Guru Marzuki), KH. Zayadi (pendiri Perguruan Islam Az-Ziyadah, Klender), KH. Abdullah Syafi’i (pendiri Pesantren Asy-Syafi’iyyah, Jatiwaringin), KH. Ali Syibromalisi (pendiri Perguruan Islam Darussa’adah dan mantan ketua Yayasan Baitul Mughni, Kuningan-Jakarta), KH. Abdul Jalil (tokoh ulama dari Tambun, Bekasi), KH. Aspas (tokoh ulama dari Malaka, Cilincing), KH. Mursyidi dan KH. Hasbiyallah (pendiri perguruan Islam al-Falah, Klender), dan ulama-ulama lainnya. Selain KH. Abdul Malik (Guru Malik), putera-putera Guru marzuki yang lain juga menjadi tokoh-tokoh ulama, seperti KH. Moh. Baqir (Rawabangke), KH. Abdul Mu’thi (Buaran, Bekasi), KH. Abdul Ghofur (Jatibening, Bekasi).

Guru Marzuki dan Jaringan Ulama Betawi

Dalam kajian Abdul Aziz, MA., peneliti Litbang Depag dan LP3ES, Guru Marzuki termasuk eksponen dalam jaringan ulama Betawi yang sangat menonjol di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 bersama lima tokoh ulama Betawi lainnya, yaitu: KH. Moh. Mansur (Guru mansur) dari Jembatan Lima , KH. Abdul majid (Guru Majid) dari Pekojan , KH. Ahmad Khalid (Guru Khalid) dari Gongangdia , KH. Mahmud Romli (Guru mahmud) dari Menteng , dan KH. Abdul Mughni (Guru Mughni) dari Kuningan-Jakarta Selatan.

Guru Marzuki beserta kelima ulama terkemuka Betawi yang hidup sezaman ini memang berhasil melebarkan pengaruh keulamaan dan intelektualitas mereka yang menjangkau hampir seluruh wilayah Batavia (Jakarta dan sekitarnya). Jaringan keulamaan yang dikembangkan oleh “enam pendekar-ulama Betawi” hasil gemblengan ulama haramain inilah yang kelak menjadi salah satu pilar kekekuatan mereka sebagai kelompok ulama yang diakui masyarakat dan telah berjasa menelurkan para ulama terkemuka Betawi selanjutnya. Wafatnya Guru Marzuki —rahimahullah wa ardhahu— wafat pada hari Jumat, 25 Rajab 1353 H. Pemakaman beliau dihadiri oleh ribuan orang, baik dari kalangan Habaib, Ulama dan masyarakat Betawi pada umumnya, dengan shalat jenazah yang diimami oleh Habib Sayyid Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (w. 1388/1968).

Di masa hidupnya, Guru Marzuki dikenal sebagai seorang ulama yang dermawan, tawadhu’, dan menghormati para ulama dan habaib. Beliau juga dikenal sebagai seorang sufi, da’i dan pendidik yang sangat mencintai ilmu dan peduli pada pemberdayaan masyarakat lemah; hari-hari beliau tidak lepas dari mengajar, berdakwah, mengkaji kitab-kitab dan berzikir kepada Allah swt. Salah satu biografi beliau ditulis oleh salah seorang puteranya, KH. Muhammad Baqir, dengan judul Fath Rabbil-Bâqî fî Manâqib al-Syaikh Ahmad al-Marzûqî.

Syeikh Muhammad Ali al-Maliki (1287 – 1367 H/1870 – 1948 M)

Nama lengkap beliau adalah “Muhammad Ali bin Husain bin Ibrahim bin Husain bin ‘Abid al-Makki al-Maliki, berasal dari keturunan Maroko yang lahir dan menetap di Mekah. Syekh Muhammad Ali al-Maliki dikenal sebagai “Mahaguru pada masanya” (Syaikh masyayikh ‘ashrihi), dan karena kepakarannya yang tak tertandingi dalam bidang gramatika bahasa Arab, dijuluki sebagai “Sibawaihi zamannya” (Sibawaihi zamânihi).

Syekh Al-Maliki dilahirkan di kota Mekah pada tahun 1287 H/1870 M dan meninggal di kota Tha’if pada tahun 1367 H/1948. Di antara guru-guru yang membekalinya ilmu-ilmu keagamaan dan tatabahasa Arab adalah saudaranya sendiri yang saat itu menjabat sebagai mufti mazhab Maliki di Mekah, Syekh Abid bin Husain al-Maliki (w. 1292 H) . Di samping menguasai fikih Maliki, beliau juga mendalami dan menguasai fikih Syafi’i di bawah bimbingan seorang faqih shufi, Syeikh Sayyid al-Bakri Syatta (lahir 1310 H), pengarang kitab I‘anah ath-Thalibin, sebuah kitab fikih Syafi’i yang menjadi buku daras di berbagai pesantren di Indonesia, termasuk di Pesantren Tinggi Attaqwa.

Guru-guru Syekh al-Maliki yang lain adalah Syekh Abdul Haq al-Alahabadi, Syekh Muhammad Khudeir ad-Dimyati, Syekh Abdullah al-Qaddumi an-Nabulsi, Syekh Muhammad Abdul Baqi al-Luknawi, Syekh Abdul Hayyi al-Kattani, dan ulama-ulama Haramain lainnya. Silsilah sanad periwayatan hadits dan jaringan inteletual Syekh Ali al-Maliki telah ditulis dan diabadikan secara lengkap oleh salah seorang muridnya, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani (w. 1410/1990), seorang pakar hadits terkemuka asal Nusantara yang diberi gelar “Musnid ad-Dunya”, dengan judul “al-Maslak al-Jaliyy fi Asânîd Fadhilah as-Syaikh Muhammad Ali al-Maliki” (“Jalan Terang tentang Sanad-sanad Yang Mulia Syekh Muhammad Ali al-Maliki”).

Setelah menamatkan pelajarannya di bawah bimbingan para ulama Haramain terkemuka di masanya, Syekh al-Maliki mendermakan ilmu dan hidupnya mengajar di Masjidil Haram dan Madrasah Darul Ulum, Mekah, yang didirikan oleh ulama-ulama haramain asal Melayu-Nusantara, dan menjabat sebagai pimpinan para syekh (Syaikhul Masyayikh) sejak pertama kali madrasah tersebut berdiri pada tahun 1933 . Kepakarannya di berbagai bidang ilmu-ilmu keislaman dan tata-bahasa Arab, menjadi magnet tersendiri bagi para pelajar Arab dan non-Arab —bahkan tidak sedikit yang sudah bergelar ulama— yang datang berguru kepadanya. Sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa hampir seluruh ulama Hijaz dan para penuntut ilmu dari Melayu-Nusantara (yang mencakup Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand Selatan dan Brunei) yang menjadi muridnya.

Di antara ulama-ulama besar Hijaz yang menjadi muridnya adalah: Syekh Hasan al-Masysyat (w. 1399 H), Syekh Alwi bin Abbas al-Maliki (w. 1391 H) , Syekh Muhammad Amin al-Kutbi (w. 1404 H) , dll. Adapun murid-murid beliau yang berasal dari Indonesia (baik yang kembali ke tanah air maupun yang memilih menetap di Mekah) , antara lain: Syekh Muhsin al-Musawa (w. 1354 H.) , “Enam Pendekar-Kiyai Betawi” (Guru Mansur, Guru Majid, Guru Romli, Guru Marzuki, dan Guru Mughni), Musnid ad-Dunya Syekh Muhammad Yasin al-Fadani (w. 1990) , KH. Noer Alie (w. 1992 M.), KH. Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil) dari Martapura, Kalimantan (w. 1989 M.), Tuan Guru KH. M. Zainuddin Abdul Majid (pendiri Nahdlatul-Wathan) Pancor, NTB (w. 1997 M.), dll.

Kepakaran dan Aktivitasnya

Sebelum menjabat sebagai pimpinan para syekh (Syaikul Masyayikh) madrasah Darul Ulum sejak pertama kali didirikan pada tahun 1933, Syekh al-Maliki telah menjabat sebagai mufti mazhab Maliki di Mekah menggantikan saudara tua yang juga gurunya, Syekh Abid al-Maliki, tahun 1921. Kendatipun inisiasi resminya dengan mazhab Maliki, Syekh Muhammad Ali al-Maliki juga dikenal sebagai pakar dalam fikih Syafi’i, hasil gemblengan Syekh Umar Syatta ad-Dimyati, saudara dari Usman Syatta al-Bakri ad-Dimyati, seorang pakar fikih Syafi’i dan pengarang kitab fikih I‘anah ath-Thalibîn yang menjadi rujukan pesantren-pesantren di Indonesia.

Keluasan ilmu fikih lintas mazhab Ahlussunnah (terutama mazhab yang empat) membuatnya terhindar dari fanatisme sempit mazhab-fikih yang tercermin dalam salah satu karyanya Inthishâr al-I‘tishâm bi Mu‘tamad Kulli Madzhab min Madzâhib al-A’immah al-A‘lâm (“Pembelaan Objektif atas Pendapat-pendapat Otoritatif Seluruh Mazhab Imam-Imam Besar”). Karya-karyanya yang lain di yang menunjukkan kepakarannya di bidang fikih dan ushul fikih sebenarnya cukup banyak, antara lain: At-Taqrîrât ‘ala Syarh al-Muhallâ, Tahdzib al-Furûq lil-Qarâfi, al-Hawâsyî as-Saniyyah ‘ala Qawânîn Ibn Jizziy al-Mâlikî (ketiganya dalam bidang ushul fikih mazhab Maliki), dan Hawâsyi ‘ala al-Asybâh wan-Nazhâ’ir lis-Suyûthî (dalam bidang ushul fikih mazhab Syafi’i).

Kendatipun keluasan ilmu fikihnya yang menyebabkan keluwesan dalam menyikapi berbagai perbedaan fikih-furu‘iyyah inter-Ahlussunnah waljamaah, Syekh al-Maliki dikenal tegas dalam hal-hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip akidah-ushuliyyah. Untuk menjaga akidah Ahlussunah wal-jamaah dari berbagai upaya penyimpangan di bidang akidah, ia misalnya telah menulis secara khusus bantahan atas aliran Ahmadiyah dengan judul Al-Qawâthi‘ al-Burhaniyyah fi Bayân Ifki Ghulâm Ahmad wa Atbâ‘ihi al-Qâdiyâniyyah (“Bukti-bukti Meyakinkan tentang Kebohongan Mirza Ghulam Ahmad dan Para Pengikut Aliran Qâdiyâniyyah”).

Tulisannya mengenai penyimpangan akidah Ahmadiyah yang berpusat di Qadiyan dan Lahore —suatu aliran yang muncul dan berkembang jauh di luar Semenanjung Arabia di mana al-Maliki hidup— menyiratkan bahwa Syekh al-Maliki bukanlah tipe intelektual “menara gading” yang masa bodo terhadap persoalan-persoalan keumatan, baik dalam skala nasional, regional dan internasional. Kepeduliannya terhadap perkembangan umat Islam dalam skala internasional, misalnya, tampak jelas ketika ia bersama murid seniornya, Muhammad al-Amin al-Kutbi, termasuk di antara ulama yang disowani dan dimintakan pendapat oleh Abul Hasan an-Nadawi, seorang tokoh intelektual Muslim asal India yang memiliki reputasi internasional, ketika an-Nadawi berkunjung ke Mekah pada tahun 1947. Kepedulian al-Maliki terhadap kondisi umat dan dunia Muslim boleh jadi telah muncul sebagai hasil dari kunjungan yang pernah dilakukannya ke berbagai negara Asia —termasuk Indonesia dan wilayah Melayu-Nusantara— pada tahun 1343 dan tahun 1345 H. Petunjuk lain tentang kepedulian al-Maliki atas pelbagai permasalahan umat dapat dibaca dari ulasan-ulasan yang dituangkannya dalam satu karya yang berjudul Fatâwâ an-Nawâzil al-‘Ashriyyah (Fatwa-fatwa tentang Pelbagai Masalah Kontemporer).

Selain fikih dan akidah, bidang keilmuan lain yang digeluti Syekh al-Maliki adalah disiplin ilmu-ilmu hadits (dirayah dan riwayah). Kepakaran di bidang yang satu ini sangat tampak ketika ia, bersama Syekh Umar Hamdan (w. 1368 H) —rekannya yang juga salah seorang guru KH. Noer Ali— menjadi salah seorang mata rantai terpenting periwayatan hadits (isnad) Musnid ad-Dunya, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani. Oleh karenanya, Syekh al-Maliki termasuk salah satu mata rantai sanad para pakar hadits Mekah yang terpenting, sebagaimana tercatat dalam karya al-Fadani “An-Nafhah al-Miskiyyah fil-Asânîd al-Makkiyyah” (“Hembusan Aroma Misik tentang Isnad-isnad Mekah”). Bahkan periwayatan melalui jalur Syekh al-Maliki dicatat tersendiri oleh al-Fadani dalam karyanya al-Maslak al-Jaliyy fi Asânîd Fadhilah as-Syaikh Muhammad Ali al-Maliki (“Jalan Terang tentang Sanad-sanad Yang Mulia Syekh Muhammad Ali al-Maliki”).

Kecuali itu, tentu saja kita tidak dapat mengabaikan kepakaran Syekh Ali al-Maliki dalam bidang gramatika dan sastera Arab (nahwu, sharaf, balaghah, arudh, qawafî) yang turut membentuk kepakaran KH. Noer Ali dalam bidang ini. Gelar “Sibawaih pada masanya” (Sibawaihi zamânihî) yang disandang al-Maliki adalah sebentuk pengakuan para ulama atas kepakarannya di bidang ini. Dua jilid bukunya tentang gramatika bahasa Arab dengan judul “Tadrîb ath-Thullâb fi Qawâ‘id al-I‘râb”, masih membuat decak kagum para pengkajinya.

Harmonisasi Syariat dan Tasawuf

Bidang keilmuan lain yang digeluti oleh Syekh Al-Maliki —juga hampir seluruh ulama-ulama Haramain pada masanya— adalah disiplin tasawuf. Sebagaimana dimaklumi, melalui adikaryanya Ihyâ’ ‘Ulumid-Dîn, Imam al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) telah mampu secara memuaskan mengkombinasikan aspek eksoterik (syari’ah) dan esoterik (tasawuf) dalam Islam; sehingga harmonisasi antara syari’ah dan haqiqah, fikih dan tasawuf menjadi mainstream atau —dalam istilah Azra: great tradition— corak keagamaan dan keilmuan di hampir seluruh dunia Islam setelah kemunculan tokoh yang digelari “Hujjatul Islam” (Bukti Kebenaran Islam) ini.

Bahkan Dr. Tawfiq at-Thawîl dalam kajiannya mengenai tasawuf di masa Imperium Khilafah Usmaniyah yang runtuh pada tahun 1924, menulis, bahwa sampai akhir masa imperium Ottoman yang berpusat di Turki yang cakupan wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh dunia Islam (termasuk Hijaz), harmonisasi antara disiplin fikih dan tasawuf menjadi corak utama keagamaan dan intelektual dunia Arab-Islam pada masa itu. Menurut Dr. Hasan Asy-Syâfi‘î, harmonisasi ini tampak misalnya dalam karya-karya hampir semua tokoh intelektual di dunia Islam yang hidup pada masa itu yang, karena kecenderungan praktek fikih yang dibalut dengan penghayatan sufi mereka, salah satu gelar akademik yang kerap disandang para ulama kala itu adalah “Faqih, Muhaddits, Shufî” (Pakar Fikih dan Hadits serta Pegiat Tashawwuf).

Untuk menyebut di antara ulama yang memiliki gelar akademik seperti itu, kita bisa menyuguhkan beberapa nama, misalnya, Abdul Wahab asy-Sya‘rani (w 973 H) di Mesir; Abdul Ghani an-Nabulsi (w. 1143 H) di Syam; Shah Waliyullah ad-Dahlawi (w. 1176 H) yang meneruskan pemikiran pendahulunya Ahmad as-Sirhindi (1034 H) di India; Ahmad ad-Dardîrî, pendiri tarekat al-Khalwati (w. 1201 H.) di Mesir; Muhammad Ali as-Sanusi (w. 1275 H), pendiri tarekat Sanusiah yang melahirkan seorang tokoh sufi-mujahid, Umar Mukhtar (1349 H) di Libia; dan —tidak ketinggalan— Nuruddin ar-Râniri (w. 1076/1666), Abdul Rauf as-Sinkili (w. 1105/1693) dan Yusuf al-Maqassari (1111/1699) di Indonesia ; serta yang lainnya.

Kecenderungan harmonisasi syariat dan tasawuf ala Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali yang, dalam jaringan intelektual ulama-ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad 17 mengkristal pada sosok Ibrahim al-Kurani dan Ahmad al-Qusysyasi (tiga murid mereka asal Indonesia adalah Ar-Raniri, Al-Sinkili dan al-Maqassari), terus bergulir di abad-abad selanjutnya. Tokoh ulama seperti Syekh Ahmad Zaini Dahlan , Mufti Syafi’iyyah di Mekah al-Mukarramah yang berhasil mencetak ulama-ulama selanjutnya (seperti Muhammad Abid al-Maliki, Abu Bakar Syatta ad-Dimyati dari Arab; dan Mahfuzh at-Termasi dari Indonesia), mereka semua termasuk dalam jaringan intelektual yang mendukung harmonisasi syariat dan tasawuf. Dan corak intelektual seperti inilah yang kemudian dipraktekkan oleh Syekh Ali al-Maliki dan KH. Hasyim Asy‘ari (pendiri NU, kolega Syekh Ali al-Maliki yang bersama-sama menjadi murid Syekh Abid al-Maliki) , yang kemudian terus dilanjutkan oleh para ulama abad 19/20, termasuk “enam pendekar-ulama Betawi”, KH. Noer Alie, KH. Abdullah Syafi‘i, Tuan Guru KH. Zainuddin, dan ulama-ulama Indonesia lainnya.

Kembali kepada Syekh Ali al-Maliki. Hubungan K.H. Noer Ali dengan guru yang satu ini memang agak lebih istimewa dibandingkan dengan guru-gurunya yang lain di Haramain. Keistimewaan itu terlihat karena Guru Marzuki yang juga murid Syekh Ali al-Maliki, diduga kuat telah merekomendasikan KH. Noer Alie untuk melanjutkan pelajarannya langsung di bawah bimbingan Syekh al-Maliki yang pernah menjadi gurunya di Mekah. Kecuali itu, keistimewaan Syekh al-Maliki bagi KH. Noer Alie juga terlihat dari beberapa ijazah hizb dan wirid yang didapatkannya langsung dari Syekh Ali al-Maliki. Ijazah (sertifikasi) wirid dan hizb ini menunjukkan inisiasi Syekh Ali al-Maliki dan para ulama di masanya pada tasawuf-sunni —lawan dari tasawuf falsafi— yang berupaya mengharmonisasikan antara aspek lahiriah-eksoteris (syariat) dan zuhud-esoteris (hakikat), suatu upaya yang kemudian diikuti dengan setia oleh murid-muridnya, termasuk KH. Noer Alie dan para murid beliau yang setia.

Wallâhu A‘lam

BIBLIOGRAFI:

  • Ad-Dahlawi, Shah Waliyullah, Hujjatullâh al-Bâlighah, Cairo: Dar at-Turats, 1355 H.
  • Al-Azhîmabâdi, Muhammad Asyraf, ‘Aunul Ma‘bûd Syarh Sunan Abi Dawud, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, cetakan I, 1415 H.
  • Al-Baghdadi, Isma‘îl, Hadiyyatul ‘Ârifîn, dalam digital library: al-Maktabah asy-Syâmilah versi 2.
  • Al-Fâdânî, Muhammad Yasîn, An-Nafhah al-Miskiyyah fil-Asânîd al-Makkiyyah, Beirut: Darul Basya’ir al-Islamiyyah, 1990.
  • Al-Kattani, Abdul Hayy, Fihris al-Fahâris, dalam digital library: al-Maktabah asy-Syâmilah versi 2.
  • An-Nadawi, Abul Hasan, al-Imam ad-Dahlawi, Kuwait: Darul Qalam, 1996.
  • An-Nadawi, Abul Hasan, al-Imam as-Sirhindi Hayâtuhû wa A‘mâluhû, Kuwait: Darul Qalam, 1994.
  • An-Nadawi, Muhammad Thariq, Abul Hasan an-Nadawi Rabbani al-Ummah, dalam Al-Mu‘jam al-Jâmi‘ fi Tarâjim al-‘Ulamâ’ wa Thalabatil-‘Ilmi al-Mu‘âshirîn, dalam digital library: al-Maktabah asy-Syâmilah versi 2.
  • An-Najjâr, ‘Âmir (Dr.), Ath-Thuruq ash-Shûfiyyah fi Misr, Dar al-Ma‘ârif, cet. VI, 1995.
  • Ash-Sha‘îdî, Abdul Muta‘al, al-Mujaddidûn fil Islam min al-Qarnil Awwal ila al-Râbi‘ ‘Asyar, Cairo: Maktabah al-Adab, 1996.
  • Asy-Syâfi‘î, Hasan (Dr.) et. al, Fi at-Tashawwuf al-Islâmî, Cairo: Dar ats-Tsaqafah al-‘Arabiyah, 1996.
  • Ath-Thawaîl, Tawfiq (Dr.), At-tashawwuf fi Misr Ibbâna ‘ashril Utsmânî, Mesir: Maktabah al-I‘timâd, 1946.
  • At-Taftazânî, Abul Wafâ (Dr.), Madkhal Ila at-Tashawwuf al-Islâmî, Cairo: Dar ats-Tsaqafah, 1979.
  • Az-Zirikli, Khairuddin, al-A‘lâm (Qâmûs Tarâjim li Asyhar al-Rijâl wa an-Nisâ’ minal ‘Arab wal Musta‘rabîn wal-Mustasyriqîn, dalam digital library: al-Maktabah asy-Syamilah, versi 2.
  • Aziz, Abdul (MA), Islam dan Masyarakat Betawi, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002.
    Azra, Azyumardi (Dr.), Jaringan Ulama Timteng dan Nusantara abad 17 dan 18, Bandung: Mizan, 1994.
  • Fadli, Ahmad, Ulama Betawi (Studi tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20), abstrak thesis M.A. Universitas Indonesia, tidak diterbitkan.
  • Jabbar, Umar Abdul, Siyâr wa Tarâjim Ba‘dhi ‘Ulamâ’ina fil Qarni ar Râbi‘ ‘Asyara lil-Hijrah, Saudi, t.p.,t.t.
  • Kuhalah, Muhammad Ridha, Mu‘jam al-Mu’allifîn, dalam digital library: al-Maktabah asy-Syâmilah versi 2.
  • Mamduh, Mahmud Sa‘id, Tasynîf al-Asmâ‘ bi Syuyukh al-Ijâzah wa al-Simâ‘, Cairo: Mathba‘ah Dâr asy-Syabâb, 1984.
  • Rasyid, Daud (Dr), Juhûd ‘Ulamâ Indonesia fi as-Sunnah, disertasi Fak. Darul Ulum, Cairo University, tahun 1996, supervisor: Prof. Dr. M. Nabil Ghanaim.
  • Sezkin, Ilyas, Mu‘jam al-Mathbû‘ât, dalam digital library: al-Maktabah asy-Syâmilah versi 2.
Penulis : H. Irfan Mas’ud, MA
Penulis adalah cucu KH. Noer Alie dari pasangan Drs. H. Mas’ud Abdullah dan Hj. Sholihah Noer, MA. Beliau pernah belajar di Cairo Mesir (1990) dan sekarang Dosen Pascasarjana UIN Jakarta.

Manaqib Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani


Syekh Yasin Al-Fadani Ulama Mekkah Keturunan Indonesia beliau adalah salah satu Gurunya Abah Guru Sekumpul

Ulama Mekkah yang nenek moyangnya berasal dari Padang Sumatra Barat, adalah sosok ulama Indonesia yang namanya Terukir dengan Tinta Emas karena keluasan ilmu yang dimilikinya. Beliau bergelar “Almusnid Dunya”

(ulama ahli Musnad dunia), keahlian dalam hal ilmu periwayatan hadist ini, maka banyak para ulama-ulama dunia berbondong-bondong untuk mendapat Ijazah Sanad hadist dari beliau. Bahkan Al-‘Allamah Habib Segaf bin Muhammad Assegaf salah seorang ulama dan waliyulloh dari Tarim Hadromaut sangat mengagumi keilmuan Syekh Yasin Al-Padani hingga menyebut Syekh Yasin dengan ”Sayuthiyyuh Zamanihi"


Nama lengkapnya Abu Al-Faidh’ Alam Ad Diin Muhammad Yasin bin Isa Al-Padani, lahir di Mekkah tahun 1916. Sejak kecil Syekh Yasin sudah menunjukan kecerdasan yang luar biasa, Bahkan menginjak usia remaja Syekh Yasin mampu mengungguli rekan-rekannya dalam hal penguasaan ilmu hadist, fiqih bahkan para gurunya pun sangat mengaguminya. Syekh Yasin mulai belajar dengan ayahnya Syekh Muhammad Isa, dilanjutkan ke Ash-Shautiyyah guru-gurunya antara lain Syekh Muhktar Usman, Syekh Hasan Al-Masysath, Habib Muhsin bin Ali Al-Musawa.

Sekitar tahun 1934 terjadi konflik yang menyangkut nasionalisme, direktur Ash-Shautiyyah telah menyinggung beberapa pelajar asal Asia Tenggara terutama dari Indonesia, maka Syekh Yasin mengemukakan ide untuk mendirikan Madrasah Darul Ulum di Mekkah, banyak dari pelajar Ash-Shautiyyah yang berbondong-bondong pindah ke Madrasah Darul Ulum, padahal madrasah tersebut belum lama didirikan. Syekh yasin menjabat sebagai wakil direktur Madrasah Darul Ulum Mekkah, disamping itu Syekh Yasin mengajar di berbagai tempat terutama di Masjidil haram . Materi materi yang disampaikan Oleh Syekh Yasin mendapat sambutan yang luar biasa terutama dari para pelajar asal Asia Tenggara. Syekh Yasin juga dikenal sebagai sosok ulama yang sering minta Ijazah dari para ulama-ulama terkemuka sehingga Beliau memilki sanad yang luar biasa banyaknya.

Dan yang sangat menarik adalah sosok Syekh Yasin Al-Padani adalah kesederhanaannya, walaupun beliau seorang ulama besar namun beliau tidak segan-segan untuk keluar masuk pasar memikul, dan menenteng sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Dengan memakai kaos oblong dan sarung, Syekh Yasin juga sering nongkrong di warung teh sambil menghisap Shisah ( rokok arab). tak ada seorang pun yang berani mencelanya karena ketinggian ilmu yang dimiliki Syekh Yasin. Dan jika musim haji tiba Syekh Yasin mengundang ulama-ulama dunia dan pelajar untuk berkunjung kerumahnya untuk berdiskusi dan tak sedikit dari para ulama yang meminta Ijazah Sanad hadist dari Syekh Yasin. Namun biarpun lewat dari musim haji rumah Syekh Yasin pun selalu ramai dikunjungi para ulama dan pelajar.

Ulama kelahiran abad 20 ini menghasilkan karya-karya yang tak kurang dari 100 judul, yang semuanya tersebar dan menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam, pondok pesantren, baik itu di Mekkah maupun di Asia Tenggara. Susunan bahasa yang tinggi dan sistematis serta isinya yang padat menjadikan karya Syekh Yasin banyak digunakan oleh para ulama dan pelajar sebagai sumber referensi. Diantaranya:

Pertama, Fathul ‘allam Syarah dari kitab Hadist Bulughul Maram

Kedua, Ad Durr Al-Madhud fi Syarah Sunan Abu Dawud

Ketiga, Nail Al-Ma’mul Hasyiah ‘Ala Lubb Al-Ushul Fiqh

Keempat, Al Fawaid Al-Janiyah ‘Ala Qawaidhul fiqihiyyah, dan masih banyak karya beliau lainnya.

Beliau banyak dipuji oleh para Ulama dan para gurunya, seperti seorang ulama Hadist bernama Sayyid Abdul Aziz Al-Qumari menjuluki Syekh Yasin sebagai ulama kebanggaan Haromain ( Mekkah dan Madinah).

Dr. Ali Jum’ah salah satu Mufti Mesir dalam kitab Hasyiyah Al -mam Baijuri A’la Jawahirut Tauhid yang di tahqiqnya mengatakan bahwa dia mendapat Ijazah sanad dari Syekh Yasin Al Fadani.

Syekh M Zainuddin sewaktu mengajar di madrasah Ash-Shautiyyah mengalami kesulitan dan memaksa dirinya membolak balik berbagai kitab-kitab yang relevan, namun setelah terbitnya Kitab Qowaidhul Fiqih karya Syekh Yasin Al-Fadani menjadi ringanlah segala bentuk kesulitan-kesulitan yang biasa ia alami waktu mengajar.

Syekh Yasin juga sering mengadakan kunjungan-kunjungan keberbagai negara terutama di Indonesia yang merupakan asal dari nenek moyangnya, tak sedikit dari para ulama-ulama yang bertemu Syekh Yasin ingin dianggap murid oleh beliau dan minta ijazah sanad hadist. Dan kejadian yang menarik adalah sewaktu Syekh Yasin berkunjung keIndonesia banyak dari para ulama dari berbagai daerah di Indonesai berbondong-bondong menemui Syekh Yasin untuk dianggap murid salah satunya adalah KH Syafi’i Hadzmi. KH. Syafii datang menemui Syekh Yasin Al-Fadani untuk diangkat sebagai murid namun Syekh Yasin menolaknya, bukan karena tidak suka atau ada hal lain. Namun Syekh Yasin Menganggap bahwa dirinya tidak pantas menjadi guru dan beliau mengatakan bahwa dirinyalah yang pantas menjadi Murid KH Syafi”i Hadzami. Syekh yasin menilai bahwa kedalaman ilmu yang dimiliki KH Syafi’i Hadzami tak diragukan lagi. KH Syafi’i Hadzami begitu terkenal namanya di Mekkah sebagai sosok ulama Indonesai yang memiliki keluasan ilmu.

Begitulah sosok Syekh Yasin Al-Padani yang sangat menghargai para ahli ilmu. Dan pernah salah seorang murid Syekh Yasin Al-Fadani, KH Abdul Hamid dari Jakarta, sewaktu beliau dihadapi kesulitan dalam mengajar beliau mendapat sepucuk surat dari Syekh Yasin Al-Fadani, begitu membuka isi surat tersebut ternyata adalah jawaban dari kesulitan yang dihadapinya. KH Abdul hamid pun heran bagaimana Syekh Yasin bisa tahu kesulitan yang sedang beliau hadapi?

Pernah juga salah seorang Murid Syekh Yasin di mekkah menceritakan bahwa dirinya diperintahkan Syekh Yasin untuk dibuatkan teh, setelah teh tersebut diminum dirinya pergi ke Masjidil Haram dan terasa tidak percaya bahwa dirinya melihat Syekh Yasin sedang membawa kitab sehabis mengajar dari masjidil haram padahal baru tadi Syekh Yasin minum teh dirumahnya.

Syekh Yasin Al-Fadani tampil sebagai sosok ulama yang mampu mencetak murid-murid yang sangat mencintai ilmu diantara murid Beliau adalah Syekh Muhammad Ismail Zaini Al-Yamani, Syekh Muhammad Muhktaruddin, Habib Hamid Al-Kaff, KH. Ahmad Damhuri ( Banten), KH Abdul Hamid ( Jakarta), KH Ahmad Muhajirin ( Bekasi), Kh Zayadi Muhajir, Kh Syafi’i Hadzami dan masih banyak murid beliau yang tersebar di pelosok penjuru dunia yang meneruskan perjuangan Syekh Yasin Al-Fadani. Bangsa Indonesia pun boleh berbangga bahwa bangsa kita memilki Ulama-ulama yang sangat terkenal dan diakui ketinggian ilmunya di Mekkah maupun di dunia Sebut saja Syekh Muhammad Nawawi Al Bantani ( Banten), Syekh Yasin Al-Fadani ( Padang), Syekh Ahmad Khatib Sambas ( Kalimantan), Syekh Muhammad Zainuddin Al-Fancuri ( Lombok) dan lain-lain.

Tahun 1990 Syekh Yasin Al-Fadani dipanggil menghadap Allah SWT, seluruh dunia merasa kehilangan sosok ulama hadist yang mumpuni dan menjadi sumber rujukan ilmu. Dan kebesaran Allah ditampakan oleh para hadirin yang hadir dalam prosesi penguburan ulama besar tersebut. Begitu Jenazah dimasukkan ke liang lahat bukan liang yang sempit dan lembab yang tampak tapi liang tersebut berubah menjadi lapangan yang luas membentang disertai dengan semerbak wewangian yang harum dan menyegarkan. Subhanalloh Ya Allah jadikan para ulama-ulama Indonesia saat ini menjadi ulama-ulama yang istiqomah, yang berjuang mensyiarkan agama Allah dengan penuh keikhlasan seperti ulama-ulama terdahulu yang telah Engkau Rahmati Amiiiiin.

Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani

Syekh Muhammad Yasin Bin Muhammad Isa Al-Fadani (lahir di Mekkah, Arab Saudi, 17 Juni 1915 – meninggal di Mekkah, 20 Juli 1990 pada umur 75 tahun) adalah seorang ahli sanad hadist, ilmu falak, bahasa Arab, dan pendiri madrasah Darul Ulum al-Diniyyah, Mekkah.[1] Beliau merupakan putra ulama terkenal, Syekh Muhammad Isa Al-Fadani asal Padang, Sumatera Barat

Al-Fadani mulai mempelajari Islam dari ayahnya Syekh Muhammad Isa. Kemudian dia melanjutkan pendidikannya di Madrasah Ash-Shauthiyyah. Karena guru-guru asal India menghina para pelajar Indonesia, maka ia mendirikan madrasah Darul Ulum al-Diniyyah, dan menamatkan pendidikannya di sekolah ini. Setelah menjalani pendidikan formal, ia berpindah-pindah untuk berguru ke beberapa ulama Timur Tengah. Disamping menimba ilmu, ia aktif mengajar dan memberi kuliah di Masjidil Haram dan madrasah yang didirikannya. Ia mengajar terutama pada mata kuliah ilmu hadist. Dia merupakan seorang ulama yang kukuh pada ajaran Ahlul Sunnnah wal Jamaah. Dia sering berseberangan dengan para ulama Haramain yang menganut paham Wahabi.
Syekh Yasin merupakan seorang yang sederhana. Ia tidak segan-segan menenteng sayur, memikul kebutuhan sehari-harinya dari pasar, dan duduk di warung sambil mengisap shisah (rokok Arab).

Selain aktif mengajar, ia juga rajin menulis kitab. Jumlah karyanya mencapai 97 buku, diantaranya 9 buku tentang ilmu hadist, 25 buku tentang ilmu dan ushul fiqih, serta 36 buku tentang ilmu falak. Buku-bukunya banyak dibaca para ulama dan menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam, pondok pesantren, baik itu di Arab Saudi maupun di Asia Tenggara[3] Kitabnya yang paling terkenal : Al-Fawaid al-Janiyyah, menjadi materi silabus dalam mata kuliah ushul fiqih di Fakultas Syariah Al-Azhar Kairo.

Karya:

Al-Durr al-Mandlud Syarh Sunan Abi Dawud, 20 Juz
Fath al-'Allam Syarh Bulugh al-Maram, 4 jilid
Nayl al-Ma'mul 'ala Lubb al-Ushul wa Ghayah al-wushul
Al-Fawaid al-Janiyyah Ala Qawa'idil Al-Fiqhiyah
Jam'u al-Jawani
Bulghah al-Musytaq fi 'Ilm al-Isytiqaq
Idha-ah an-Nur al-Lami' Syarh al-Kaukab as-Sathi'
Hasyiyah 'ala al-Asybah wan an-Nazhair
Ad-Durr an-Nadhid
Bulghyah al-Musytaq Syarh al-Luma' Abi Ishaq
Tatmim ad-Dukhul Ta'liqat 'ala Makhdal al-Wushul ila 'Ilm al-Ushul
Nayl al-Ma'mul Hasyiyah 'ala Lubb al-Ushul wa syarhih Ghayah al-Wushul
Manhal al-Ifadah
Al-Fawaid al-Janiyyah Hasyiyah 'ala al-Qawaid al-Fiqhiyyah
Janiyy ats-Tsamar Syarh Manzhumah Manazil al-Qamar
Mukhtashar al-Muhadzdzab fi Istikhraj al-Awqat wa al-Qabilah bi ar-Rubi'i al-Mujib
Al-Mawahib al-Jazilah syarh Tsamrah al-Washilah fi al-Falaki
Tastnif al-Sami'i Mukhtashar fi Ilmi al-Wadh'i
Husn ash-Shiyaghah syarh kitab Durus al-Balaghah
Risalah fi al-Mantiq
Ithaf al-Khallan Tawdhih Tuhfah al-Ikhwan fi 'Ilm al-Bayan
Ar-Risalah al-Bayaniyyah 'ala Thariqah as-Sual wa al-Jawab


beberapa foto foto beliau
 
 
 
 









 

http://rindurasul2.blogspot.com/2012/06/manaqib-syekh-muhammad-yasin-al-fadani.html


Syeikh Yasin Al-Fadani adalah Musnid al-'Asr





Assalammualaikum warahmatullahhi wabarokatuh. Alhamdulillah syukur kita di atas kurnian tuhan sekalian alam atas nikmat Iman dan Islam , selawat dan salam juga buat junjungan mulia  habibuna saidina Muhammad S.A.W serta ahli2 keluarga baginda dan para sahabat kesemuanya.
AL-'ALLAMAH al-Mutafannin Musnid al-'Asr 'Alam al-Din Abu al-Faidh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa al-Fadani al-Indunisi al-Makki al-Syafii dilahirkan di Mekah pada 1335 Hijrah bersamaan 1916 Masihi. Beliau membesar di sana di bawah asuhan ayahnya dan juga bapa saudaranya bernama Syeikh Mahmud. Keluarganya berasal dari Kota Padang, Indonesia yang berhijrah ke Mekah.

AL-'ALLAMAH al-Mutafannin Musnid al-'Asr 'Alam al-Din Abu al-Faidh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa al-Fadani al-Indunisi al-Makki al-Syafii dilahirkan di Mekah pada 1335 Hijrah bersamaan 1916 Masihi. Beliau membesar di sana di bawah asuhan ayahnya dan juga bapa saudaranya bernama Syeikh Mahmud. Keluarganya berasal dari Kota Padang, Indonesia yang berhijrah ke Mekah.
Syeikh Yasin telah menimba ilmu daripada para ulama secara talaqqi di mana Mekah pada ketika itu merupakan lubuk ilmu-ilmu Islam dan ulama.
Keberadaan di Mekah memberi kelebihan yang banyak kepadanya kerana pada musim haji, beliau akan memanfaatkan waktu itu untuk menuntut ilmu dan memohon ijazah daripada para ulama yang menunaikan fardu haji.
Antara guru yang paling kerap didampinginya dalam usaha mendapatkan ilmu, makrifah dan pembentukan sahsiah ialah Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syeikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki, Al-'Allamah Syeikh Hasan bin Muhammad al-Masysyat dan Muhaddith al-Haramain Syeikh Umar Hamdan al-Mahrisi.
                               Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki
Hasil kesungguhannya menuntut ilmu tanpa jemu, menjaga adab dan mempersembahkan khidmat yang terbaik kepada para gurunya, Syeikh Yasin telah muncul sebagai salah seorang ulama di Mekah.
Beliau mula mengajar di Masjid al-Haram dan Madrasah Dar al-'Ulum al-Diniyyah ketika umurnya belum mencecah 20 tahun.
Beliau juga seorang ulama berperwatakan sederhana, zuhud, berlapang dada, mengasihi fakir miskin dan sentiasa menghulurkan bantuan kepada para penuntut yang datang ke Mekah.
Al-Muhaddith Syeikh Mahmud Said Mamduh menyatakan: "Allah telah memuliakan saya dengan memberi peluang kepada saya melazimi Sayyidi Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani. Beliau telah memberi perhatian khusus kepada saya dan memerintahkan saya duduk di sebelah kanannya setiap kali saya berada di dalam majlis pengajiaannya dan kedudukan saya ini tidak pernah diambil oleh orang lain.
                         Syeikh Mahmud bersama Syeikh Nuruddin 
"Beliau juga membantu menyelia urusan pengajian saya di sisi ulama Mekah dan menolong saya berkenaan dengan urusan kitab dan guru, di samping apa yang saya pelajari secara terus daripadanya."
Malah dia juga sentiasa berakhlak dan menjaga adab terhadap guru-gurunya. Beliau akan sentiasa berusaha menjaga hati mereka sebaik mungkin.
Selesai menulis syarah kitab al Luma' mengenai Usul Fiqh yang bertajuk Bughyah al Musytaq bi Syarh Luma' Abi Ishaq setebal dua jilid, beliau berhasrat mencetaknya tetapi dalam masa yang sama salah seorang gurunya iaitu al-Qadhi Syeikh Muhammad Yahya Aman al-Hanafi turut sama selesai menulis syarah bagi kitab al-Luma' bertajuk Nuzhah al-Musytaq.
Maka Syeikh Yasin telah membatalkan niat untuk mencetak kitab tersebut sebagai menjaga hati, memuliakan dan mendahulukan gurunya.
Setelah menghabiskan umurnya atas jalan ilmu dan dakwah, Syeikh Yasin al-Fadani dijemput menemui Ilahi pada Zulhijjah 1410 Hijrah bersamaan 1990 Masihi.
Pemergiannya adalah pemergian musnid terunggul pada zamannya. Setelah kewafatannya, berkuranganlah kehadiran manusia yang datang dari jauh dan dekat ke Mekah demi mendapatkan ijazah dan sanad yang tinggi.
Pengiktirafan Ahli Ilmu
Kedudukan Syeikh Yassin menjadikan beliau di antara ulama tersohor di seluruh dunia Islam dan menjadi tujuan permusafiran mereka bagi mendapatkan faedah ilmu dan merantaikan diri dengan sanadnya yang tinggi.
Pengiktirafan terhadap kedudukannya itu dapat dilihat apabila gurunya al-Muhaddith al-Mujtahid Sayyid Abdullah bin al-Siddiq al-Ghumari dengan katanya: "Di antara mereka daripada kalangan mereka yang mengijazahkan saya ialah al-'Allamah al-Musnid Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani. Saya telah mengijazahkannya dan beliau pun mengijazahkan saya lalu kami saling ijazah mengijazahkan antara satu sama lain. Beliau sekarang adalah Musnid al-'Asr (Musnid Unggul Zaman)."
                          Sayyid ahmad siddiq al-ghumari(abang-kiri) Dan Sayyid Abdullah al-Ghumari
Mengenai kemahiran dan keilmuannya juga, Syeikh Mahmud Said Mamduh menyatakan: "Syeikh kami al-'Allamah al-Fadani bukan hanya sekadar seorang musnid, bahkan beliau adalah seorang alim yang menguasai segenap disiplin ilmu Islam. Beliau menjadi tumpuan manusia meminta fatwa daripada pelbagai ceruk rantau.
"Seringkali datang kepadanya soalan-soalan yang banyak secara bertulis dari negeri-negeri Melayu Nusantara. Belia mengkhususkan sebahagian daripada waktu malamnya untuk menjawab soalan-soalan itu.
"Ya, beliau menyibukkan dirinya dengan ilmu mengenai isnad di akhir usianya, akan tetapi sebelum itu beliau telah menyibukkan dirinya dengan ilmu-ilmu syarak, istilah dengan menyampaikan pengajian dan dalam bentuk penulisan."
Murid-muridnya itu datang dari seluruh pelosok dunia Islam bermula dari benua Afrika sehinggalah Asia Tenggara. Boleh dikatakan hampir kesemua ulama, tuan guru dan kiai dari Tanah Melayu Nusantara yang menuntut ilmu di Mekah sekitar 1950 sehinggalah 1990 adalah daripada kalangan muridnya, sama ada mengambil ilmu terus atau dengan pengijazahan sanad.
 Syeikh Yasin al-Fadani (duduk tengah) bersama warga Madrasah Dar al-Ulum al-Diniyyah, Mekah
 tahun 1375 Hijrah sekitar tahun 1955 Masihi.
Berdasarkan fakta itu, sudah pastilah ia meliputi ribuan di kalangan mereka baik dari bangsa ajam mahupun Arab.
Syeikh Yasin adalah lambang kebanggaan umat Melayu di tanah Nusantara. Tidak keterlaluan jika dikatakan bahawa Syeikh Yasin adalah seorang ulama berdarah Melayu yang paling unggul di dunia Islam di mana dalam beberapa sudut, tahap keilmuannya jauh mendahului ulama-ulama Islam dari bangsa lain termasuk bangsa Arab sendiri.
Bahkan ulama-ulama di timur dan barat dunia Islam berusaha untuk meriwayatkan ilmu dan sanad daripada beliau walaupun terpaksa menempuh jarak yang jauh.
            Kelahirannya dan keberadaannya di Mekah mengharumkan Tanah Melayu Nusantara. Syeikh Yasin adalah lambang keunggulan, kehebatan dan kegemilangan Islam yang diakui oleh ulama' dan ilmuan Islam seluruh dunia. Kemudian, kehebatan ilmu beliau telah diwarisi oleh anak muridnya yg paling rapat, iaitu Al-Muhaddith Syeikh Mahmud Said Mamduh. Syeikh Mahmud telah menjadi murobbi serta guru yang mengajar saya serta sahabat2 saya di Mesir ini. Semoga ilmu-ilmu yang telah disampaikan Syeikh Mahmud kepada kami mengalirnya keberkatan ilmu tersebut sepertimana berkatnya ilmu yang diberikan oleh Syeikh Yassin al-Fadani  kepada guru kami Syeikh Mahmud.
http://untamesir-macam2ada.blogspot.com/2012/06/syeikh-yasin-al-fadani-adalah-musnid-al.html

Jumat, 22 Februari 2013

SHEIKH MUHAMMAD NURUDDIN MARBU ABDULLAH AL-BANJARI AL-MAKKI

BIOGRAFI RINGKAS AL-FADHIL AL-WALID SHEIKH MUHAMMAD NURUDDIN MARBU ABDULLAH AL-BANJARI AL-MAKKI

al-Fadhil Tuan Guru Syaikh Muhammad Nuruddin bin Haji Marbu bin Abdullah Thayyib حفظه الله berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan Indonesia. Beliau dilahirkan di sebuah desa bernama Harus, Amuntai pada tanggal 1 September 1960M. Beliau anak yang ketiga dari tujuh bersaudara, dari sebuah keluarga yang taat beragama. Bonda beliau bernama Hajjah Rahmah binti Haji Muhammad Sobri adalah puteri dari seorang tokoh ulama besar di Kalimantan Selatan.



Berhijrah ke Tanah Suci Makkah

Beliau mendapat pendidikan awal di sekolah rendah di kampung Harus. Kemudian pada tahun 1974 beliau belajar di pondok pesantren Normal Islam. Belum pun sempat menamatkan pengajiannya di pondok tersebut seluruh keluarga beliau telah berhijrah ke tanah suci Makkah. Pada tahun itu juga (1974) beliau meneruskan pengajiannya di madrasah Shaulathiah [sejarah penubuhan madrasah ini boleh didapati disini] sehingga tahun 1982. Selain itu beliau juga mengikuti pengajian yang diadakan umum di Masjidiharam dan juga dirumah para masyaikh.

Pada tahun 1982 beliau telah menamatkan pengajiannya dengan kepujian mumtaz (cemerlang) di madrasah Shaulathiah. Di samping itu juga beliau turut mencurahkan ilmunya kepada para pelajar dari Indonesia. Beliau telah mengajarkan kitab Qatrunnada, Fathul Mu'in, 'Umdatussalik, Bidayatul Hidayah dan lain-lain sebelum naik ke kelas 'Aliyah.

Beliau merupakan murid kesayangan gurunya asy-Syaikh al-‘Allamah Ismail Utsman Zain al-Yamani رحمه الله . Dan guru inilah yang banyak mewarnai dalam kehidupan beliau. Tuan guru beliau ini banyak meluangkan waktunya yang berharga untuk beliau dan sering mengajaknya untuk menemani Tuanguru beliau ke Madinah menghadiri program agama dan juga menziarahi maqam baginda Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

[Ketika aku di Bogor untuk menghadiri pengajian bersama Shaikh Nuruddin, beliau kelihatan agak sebak bila menceritakan guru kesayangannya ini. Matanya merah berair …. ya… mengingati guru kesayangannya ini. Beliau juga menunjuk gambar gurunya yang mulia ini kepada aku …..]

Beliau mencurahkan segala usaha dan tenaganya serta dirinya mendekati para masyaikh untuk berkhidmat dan juga membekali diri dengan ilmu daripada guru-gurunya. Beliau amat gigih dalam belajar, maka tidak hairanlah kalau beliau mendapat tempat di hati para gurunya. Sebut sahaja ulama' yang ada di Mekah khususnya pasti beliau pernah berguru dengan mereka. Siapa yang tidak mengenali tokoh ulama' yang harum nama mereka disebut orang semisal Syaikh al-Allamah Hasan al-Masyath yang digelar Syaikh-ul-Ulama', Syaikh al-Allamah Muhammad Yasin al-Fadani, yang mendapat julukan Syaikhul Hadits wa Musnidud-dunya, Syaikh Ismail Usman Zin al-Yamani yang digelar al-Faqih ad-Darrakah (guru beliau ini menghafal kitab Minhajut Tholibin), Syaikh Abdul Karim Banjar, Syaikh Suhaili al-Anfenani, as-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, Syaikh Said al-Bakistani dan masih banyak lagi. Kata pepatah arab “cakap sahaja tanpa perlu khuatir”. Kitab-kitab yang dipelajari beliau bersambung sanad hingga kepada pengarang, masyaAllah betapa hebat dan beruntungnya umur beliau dan segala-galanya yang diberikan oleh Allah, tidak salah kalau dikatakan ilmu beliau lebih tua dari umurnya.

Pada tahun 1983 beliau telah melanjutkan pengajiannya di Universiti al-Azhar asy-Syarif dalam bidang syariah hingga mendapat gelar sarjana muda. Kemudian beliau meneruskan lagi pengajiannya di Ma'had 'Ali Liddirasat al Islamiah di Zamalik sehingga memperolehi diploma am “Dirasat 'Ulya” pada tahun 1990

Antara guru-gurunya ketika belajar di Mekah dan Mesir adalah adalah:-
• asy-Syaikh al-‘Allamah Hasan al-Masyath رحمه الله
• asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad Yasin al-Fadani رحمه الله,
• asy-Syaikh al-‘Allamah Ismail Utsman Zain al-Yamani al-Makki رحمه الله,
• asy-Syaikh ‘Abdullah Said al-Lahji رحمه الله,
• asy-Syaikh al 'Alaamah al-Jalil as-Sayyid 'Amos رحمه الله
• asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad ‘Iwadh al-Yamani رحمه الله
• asy-Syaikh Zakaria Bila al-Indonesia رحمه الله
• asy-Syaikh Muhammad Syibli al-Banjari رحمه الله
• asy-Syaikh Karim al-Banjari رحمه الله
• asy-Syaikh ‘Abdul Karim al-Bukhari رحمه الله
• asy-‘Adnan al-Afnani رحمه الله
• asy-Syaikh Saifurrahman رحمه الله
• asy-Syaikh Sahili al-Anfanani رحمه الله
• asy-Syaikh Said al-Bakistani رحمه الله
• asy-Syaikh al-‘Allamah al-Muhaddits al-Kabir Muhammad Zakaria al-Kandahlawi رحمه الله
• asy-Syaikh al-Jalil al-Habib ‘Abdul Qadir as-Saggaf حفظه الله
• asy-Syaikh Muhammad Muntashir al-Katani al-Maghribi رحمه الله
• asy-Syaikh al-‘Allamah al-Muhaddits al-Habib as-Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki رحمه الله
• asy-Syaikh al-‘allamah Muhammad Makki al-Hind رحمه الله
• asy-Syaikh Muhammad Makhluf رحمه الله
• asy-Syaikh al-‘allamah ‘Abdullah bin Hamid رحمه الله
• asy-Syaikh al-‘Allamah al-Kabir Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi رحمه الله
• asy-Syaikh al-Imam al-Akbar ‘ali Jadul Haq رحمه الله
• asy-Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim رحمه الله
• al-Ustaz ad-Doktor asy-Syaikh Muhammad Tayyib an-Najjar رحمه الله
• asy-Syaikh al-Jalil ar-Rabbani Muhammad ‘Abdul Wahid رحمه الله
• asy-Syaikh al-‘allamah al-Kabir Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi رحمه الله
• asy-Syaikh al-‘Allamah al-Faqih ‘atiyyah Saqr رحمه الله
• asy-Syaikh al-‘Allamah Hussin رحمه الله
• asy-Syaikh ‘Abdul Hafidz al-Hind رحمه الله
• al-Ustadz ad-Doktor Ahmad umar Hasyim حفظه الله,
• al-Ustadz ad-Doktor ‘Abdusshobur Syahin
• al-Ustadz ad-Doktor ‘Abdul Fattah asy-Syaikh,
• al-Ustadz ad-Doktor Nashr Farid,
• asy-Syaikh al-‘Arifbillah Yusuf Mahyuddin al-Hasani asy-Syadhuli ad-Darqawi حفظه الله dan ramai lagi.

MENABUR JASA & MENYANDANG GELAR AZHARUS TSANI

Setelah menamatkan pengajian di Universiti al-Azhar beliau menumpukan perhatiannya untuk mencurahkan ilmunya kepada ribuan para pelajar yang datang dari Asia Tenggara seperti Malaysia, Indonesia, Singapura dan Thailand yang menuntut di Universiti al Azhar sehingga beliau mendapat gelaran al Azharus Tsani (Azhar ke Dua) satu julukan yang terhormat dan tulus dari masyarakat universiti al Azhar sendiri.


Beliau mengadakan kelas pengajian yang diberi nama “Majlis Al-Banjari Littafaqquh Fiddin” semenjak tahun 1987 sehingga 1998 yang mana buat pertama kalinya diadakan di rumah pelajar Johor dan rumah pelajar Pulau Pinang, di dewan rumah Kedah dan di dewan rumah Kelantan dan juga di masjid Jamik al Path di Madinah Nasr. Di samping mengajar beliau juga menghasilkan kitab-kitab agama berbahasa Arab dalam pelbagai bidang yang banyak tersebar luas di Timur Tengah dan juga di negara Malaysia. Boleh dikatakan setiap para pelajar yang belajar di Al-Azhar Mesir semasa beliau berada di sana pernah menimba ilmu dari tokoh ulama' muda ini. Dan memanglah semenjak dari awal keterlibatannya dalam dunia ta'lim beliau telahpun menazarkan diri beliau untuk terus menjadi khadim (orang yang berkhidmat) untuk penuntut ilmu agama. Semoga Allah Ta’ala mengurniakan kesihatan dan ke'afiaatan kepada beliau serta keluarganya dan memberikan kesempatan yang seluasnya untuk beliau terus mencurahkan ilmu dan terus menghasilkan karya ilmiah.

MENGHASILKAN KARYA ILMIAH

Beliau telah melibatkan diri dalam dunia penulisan semenjak tahun 1991. Beliau telah menghasilkan karangan dan juga mentahqiq kitab-kitab mu'tabar tidak kurang daripada 50 buah karangan kebanyakkannya dalam bahasa Arab.

Kitab tulisan beliau:
• الإحاطة بأهم مسئل الحيض والنفاس والاستحاضة
• تساؤلات وشبهات وإباطيل حول معجزة الإسراء والمعراج والرد عليها
• المختار من نوادر العرب وطرائفهم
• آدب المصافحة
• من هو المهدى المنتظر؟
• المجال الإقتصاد في الإسلام
• بيان مفتى جمهورية مصر العربية حول فوائد البنوك في ميزان أهل العلم
• سفر المرأة (احكامه و آدابه)
• الدرر البهية في إيضاح القواعد الفقهية
• معلومات تهمك
• أسماء الكتاب الفقهية لسادتنا الأئمة الشافعية
• أحكام العدة في الإسلام
• آراء العلماء حول قضية نقل الأعضاء
• أدلة بحريم نقل الأعضاء الآدمية
• الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر في الكتاب والسنة
• العبر ببعض معجزات خير البشر صلى الله عليه وسلم
• محمد نور الدين مربو البنجاري المكي والأحاديث المسلسة
• الجوهر الحسن من أحاديث سيدنا عثمان عفان رضي الله عنه
• اسمى المطالب من بعض أحاديث سيدنا على بن أبي طالب رضي الله عنه
• مراقي الصعود من بعض أحاديث سيدنا عبدالله بن مسعود رضي الله عنه
• إفادة العام والخاص من بعض أحاديث سيدنا عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما
• الكواكب الدري من أحاديث سيدنا أبي سعيد الخدري رضي الله عنه
• الكواكب الأغر ببعض أحاديث سيدنا عبدالله بن عمر رضي الله عنهما
• زاد السلك من أحاديث سيدنا أنس بن مالك رضي الله عنه
• الإقتباس من أحاديث سيدنا عبدالله بن عباس رضي الله عنهما
• فيض الباري حول بعض أحاديث سيدنا أبي موسى الإشعري رضي الله عنه
• الردة أسبابها وأحكامها
• توفيق الباري لتوضيح وتكميل مسائل الإيضاح للامام النووي
• مكانة العلم والعلماء وآداب طالب العلم
• dan banyak lagi

Antara kitab yang beliau tahqiq dan ta’liq
• رسالة المعاونة والمظاهرة والمؤازرة
• قرة العين بفتاوى الشيخ إسماعيل عثمان زين
• رفع الأستار عن دماء الحج والاعتمار
• شروط الحج عن الغير
• الحسن البصري
• إقامة الحجة غلى أن الإكثار في التعبد ليس ببدعة
• خصوصيات الرسول صلى الله عليه وسلم
• يستان العارفين
• dan banyak lagi

MAJLIS PENGAJIAN BELIAU Dl TANAH AIR MALAYSIA

Pada tahun 1998 beliau telah diperlawa untuk mengajar di Maahad Tarbiah Islamiah (MTI), Derang Kedah, yang diasaskan oleh al-Marhum Ustaz Niamat Bin Yusuf رحمه الله pada tahun 1980. Beliau tidak ubah umpama hujan yang menyuburkan bumi yang lama kehausan siramannya. Beliau menetap di MTI Derang hinggalah tahun 2002. Beliau merupakan tenaga pengajar yang utama lagi disegani yang banyak memperuntukkan masa beliau untuk para pelajar di Maahad 'Ali Littafaqquh Fiddin, Derang.
[gambar sebelah ini adalah gambar Shaikh Hasan al-Masyath]

Di samping itu beliau juga dijemput mengadakan pengajian dan ceramah bulanan atau mingguan di masjid-masjid, sekolah-sekolah. majlis-majlis perayaan agama malah suara beliau telah lantang bergema menyampaikan syiar agama di hotel-hotel, di pejabat kerajaan sama ada di negeri Kedah Pulau Pinang, Perak, Kelantan dan Terangganu. Setiap kali pengajian yang diadakan pasti akan bertambah jumlah hadirin yang tidak mahu ketinggalan menimba ilmu dan menerima siraman rohani daripada beliau. Selepas 4 tahun menabur bakti di bumi Kedah beliau telah pulang ke tempat asal kelahirannya untuk menubuhkan pesantren beliau sendiri di Kalimantan dan seterusnya pada tahun 2004 beliau menubuhkan Maahad az-Zein al-Makki al-‘Ali Litafaqquh Fiddin di Ciampiea, Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Dan disinilah beliau menetap dan mendiri bakal ulama.

KELEBIHAN BELIAU

Yang pertama dan utama adalah beliau selalu istiqamah dalam hal apapun yang dikerjakannya. Beliau mempunyai semangat yang luar biasa tinggi, tegas dengan prinsip dan berdisiplin tinggi, berwibawa serta bersemangat ketika menyampaikan ilmu. Diantara kelebihan beliau lagi walaupun banyak kelebihan beliau yang lain yaitu beliau tidak pernah kelihatan letih walaupun jauh dan lama masa mengajar, banyak tempat pengajian yang beliau hadiri dan juga kelebihannya lagi pasti ada perkara baru yang disampaikan oleh beliau dalam pengajarannya. Adapun kehebatan beliau dalam menyampaikan ilmu mengaitkan masalah semasa dengan apa yang disampaikannya sungguh amat luar biasa dan amat memberi kesan sekali kepada para hadirin. Beliau bukan saja mencurahkan ilmu kepada muridnya bahkan terlebih utama lagi beliau memberi tarbiyah adab semasa belajar. Itu merupakan fadhlun minallah kepada hamba-hambanya yang bertaqwa kepadanya.
[gambaq ni adalah gambaq Shaikh Yasin al-Fadani. Salah satu daripada sanad hadits musalsal yang dikontroversikan oleh simakhluq penulis fitnah di MM tu, Shaikh Nuruddin terima dari Shaikh Yasin]

IRSYADAT AL FADHIL

(Petikan ucapan sulung al-Fadhil Syaikh Muhammad Nuruddin hari pertama pengajian di kelas al-Ma'hadul ‘Ali Lit Tafaqquh Fiddin Derang, Kedah - pada hari Itsnin 9 Ramadhan 1419H bersamaan 28 Disember 1998 M.)
• Jangan tersilau dengan gelar PhD atau MA dan sebagainya. Penubuhan al Ma’hadul 'All Littafaqquh Fiddin ini untuk mendapat redha Allah dan membawa misi dan visi Nasratu Dinillah Taala dan adda‘watu ilallah Menuntut ilmu untuk menolong agama Allah, bukan untuk sijil, syahadah atau untuk dunia serta pangkat.
• Terlalu murah kalau dengan ilmu hanya untuk mendapat gaji lumayan. Kalau belajar hanya untuk duit akan terhenti dengan duit, dapat duit tinggal ilmu.
• Tanggungjawab kita lah terhadap ilmu di tanahair khususnya dan seluruh dunia umumya.
• Siapkan diri untuk berkorban demi ilmu, agama. Ilmu untuk agama dan akhirat.
• Bekerjalah untuk Islam, jangan biarkan musuh Islam mengukut tanah umat Islam dikeranakan ulama kita tidur sedang kita asyik bertengkar sesama sendiri.
• Jadilah 'abidan lillah (hamba kepada Allah jangan 'abidan li makhluk (hamba kepada makhluk). Menuntut ilmu harus ikhlas baru berkat.
• Berakhlaklah dengan guru yang kita mengaji dengannya. Mohon restu guru, dekati dan dampingi mereka merupakan kunci dan rahsia keberhasilan.
• Hormatilah kitab-kitab, susun dengan baik dan terhormat, jangan letak sesuatu di atas kitab, membawa kitab jangan seperti menenteng ikan sahaja, dakapkan ke dada.
• Akhlak juga harus besar sebagaimana besarnya kitab-kitab yang kita pelajari dan beramallah, jangan sampai belajar di kelas Tafaqquh tapi tak berminat untuk beramal.
• Saya bukan seperti kebanyakan guru silat yang menyimpan langkah-langkah atau jurus-jurus maut yang mematikan untuk diketahui murid-murid.
Keistimewaan Syeikh Nuruddin
Antara keistimewaan Al-Fadhil Syeikh Muhammad Nuruddin ialah beliau mewarisi metodologi pengajian berasaskan sanad ataupun silsilah. Sebagai contoh: Sekiranya kita mempelajari hadis, maka hadis itu sampai silsilah periwayatannya sehingga kepada Rasulullah s.a.w. Kalau kita mempelajari kitab-kitab ulama muktabar, maka kitab-kitab ini sampai silsilahnya kepada pengarang asal kitab ini seperti Imam As-Shafei, Imam As-Sayuti, Imam Nawawi dan lain-lain lagi. Di sinilah ketulenan dan keberkatan ilmu itu berpindah dari generasi ke generasi. Lantaran itu, amatlah wajar kita meraikan kedatangan Al-Fadhil Syeikh Muhammad Nuruddin dengan mengikuti majlis ilmu yang akan dikendalikan oleh beliau sendiri. Mudah-mudahan dengan menghadiri majlis ilmu dan mendampingi ulama, kita semakin hampir dengan Allah s.w.t.

BIODATA RINGKAS SYEIKH NURUDDIN :

Al-Fadhil Syeikh Nuruddin Bin Hj. Marbu Bin Abdullah Thaiyyib berasal dari Banjar Masin. Dilahirkan di sebuah desa bernama Harus Amuntai pada 1 September 1960 M. Beliau dan keluarganya kemudiannya menetap di tanah suci Makkah pada tahun 1974. Madrasah Shaulathiah adalah tempat beliau menimba ilmu pengetahuan di sana. Pada tahun 1982 beliau menamatkan pengajian di Madrasah Shaulathiah dengan keputusan cemerlang (mumtaz).

Sepanjang di Makkah beliau banyak mendapatkan ilmu dari tokoh-tokoh Ulama seperti Syeikh Allamah Hasan Masshath yang digelar Syeikul-Ulama rahimahullah, Syeikh al-Allamah Mohd Yasin Al-Fadani yang bergelar Syeikul Hadith wa Musnidud Dunya, Syeikh Ismail Usman Zain yang digelar Al-Faqih Ad-Darrakah dan ramai lagi tokoh-tokoh ulama di Makkah.

Pada tahun 1983 beliau melanjutkan pelajaran ke Univ. Al-Azhar As-Syarif Mesir dalam jurusan Syariah Islamiah hingga mendapat ijazah sarjana muda. Kemudian beliau meneruskan lagi pengajian di Maahad 'Ali Liddirasat al-Islamiah di Zamalik hingga mendapat diploma am "Dirasat Ulya" pada tahun 1990.

Setelah menamatkan pengajian di Univ. al-Azhar, beliau menumpukan perhatiannya dengan mencurahkan ilmunya kepada ratusan pelajar yang datang dari Asia termasuk dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand yang menuntut di Univ. al-Azhar Mesir sehingga beliau digelar sebagai al-Azharus Tsani ( Univ. Al-Azhar kedua). Di samping mengajar beliau juga menghasilkan kitab-kitab berbahasa Arab serta karya ilmiah dalam berbagai bidang. Beliau telah menghasilkan karangan dan mentahqiq kitab-kitab muktabar tidak kurang dari 50 buah karangan. (rujuk biodata beliau dalam kitab beliau bertajuk At-Tamassuk Bil Kitab Wassunnah edisi terjemahan bertajuk Berpegang Dengan Kitab Dan Sunnah).

KITAB-KITAB KARANGAN AL-FADHIL SYEIKH NURUDDIN YANG AKAN DIDISKUSIKAN :

1. 40 Mutiara Hadis Dari 40 Buah Kitab - Terjemahan

2. Al-Ihatah ? Menyingkap Persoalan Haid Nifas dan Istihadah - Bahasa Arab

3. At-Tamassuk Bil Kitab Was-Sunnah - Terjemahan

4. Man Huwa Al-Mahdi Al-Muntazar ? - Bahasa Arab

5. Ifadah Ikhwan- Dalil-dalil Haram Rokok - Bahasa Arab

6. Mereka Yang Berada Di Jalan Allah - Terjemahan

7. Tiga Hizib Wali Qutub - Hizib,terjemahan dan sanad

http://syeikhnuruddin.blogspot.com/

Rabu, 20 Februari 2013

KH. Abdullah Mukmin

Dikubur 26 Tahun Jasad Masih Utuh



Ahad, 23 Aug 2009

Jakarta (voa-islam) - Lahan seluas lapangan bulutangkis itu kini hanya tinggal puing-puing. Dulu di lahan tersebut berdiri sebuah mushala yang diberi nama An-Najat. Di mushala itu KH. Abdullah memberikan pengajian kepada murid-muridnya, sejak tahun 1950-an.

Nama Kiai Abdullah kini ramai menjadi perbincangan di Tangerang karena jasadnya yang sudah dikubur selama 26 tahun ternyata masih utuh bahkan bau wangi. Kondisi jenazah persis sama seperti saat dikubur dulu. Hanya tubuhnya agak menyusut saja, dan rambutnya memutih.
Jasad KH. Abdullah sudah dikubur selama 26 tahun ternyata masih utuh dan bau wangi. Kondisi jenazah persis sama seperti saat dikubur dulu. Hanya tubuhnya agak menyusut saja, dan rambutnya memutih.
Sepanjang hidupnya, Kiai Abdullah banyak menghabiskan waktunya untuk belajar dan mengajar agama. Menurut Achmad Fathi, putra Kiai Abdullah, sewaktu muda Kiai Abdullah sempat dibimbing Kiai Mursan, seorang ulama yang tinggal di kampung Blenduk, Batu Ceper, Tangerang, yang letaknya sekitar 2 kilometer dari kediamannya.

Setelah 5 tahun menuntut ilmu di Kiai Mursan, pria kelahiran 16 Desember 1919 itu kemudian diperintah KH Marsan untuk menambah ilmu di Darul Ulum, Mekkah, Arab Saudi. Di sana ia belajar selama kurang lebih 7 tahun.

Kiai Abdullah akhirnya pulang ke tanah air setelah gurunya, Syekh Yasin, asal Padang, Sumatera Barat, memintanya pulang ke Indonesia, untuk menularkan ilmunya kepada masyarakat, khususnya di wilayah Batu Ceper, Tangerang.

"Ayah saya diperintahkan pulang untuk mengajar oleh Syekh Yasin, saat perang dunia ke II (1939-1945)," jelas Achmad Fathi saat ditemui detikcom.

Sesuai perintah gurunya, Kiai Abdullah kemudian mulai memberikan pengajian di sekitar rumahnya. Sistem pengajaran yang dilakukan Kiai Abdullah bukan model pesantren melainkan berbentuk majelis.

Lokasi pengajian dilakukan di Musala An-Najat sejak beduk Magrib hingga jam sembilan malam. Usai pengajian, biasanya murid-murid  bermalam di musala dan pulang selepas salat Subuh berjamaah.

Materi pengajian yang diajarkan Kiai Abdullah berupa ilmu Fiqih (hukum) maupun tafsir Al Quran. Adapun kitab-kitab yang diajarjakan, antara lain, Jurmiyah, Nahwu, Shorof, Fathul Qorib, Fathul Muin, maupun tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaludin As-Suyiti.

Saat mengajar, sang kiai dikenal sangat tegas. Namun meski dikenal galak dalam mengajar, murid-muridnya justru semakin hari semakin bertambah. Mereka umumnya datang dari daerah Batu Ceper dan wilayah Tanggerang.

Selain mengajarkan ilmu agama, Kiai Abdullah juga mengajarkan murid-muridnya cara bercocok tanam. Saat siang hari biasanya murid-muridnya bekerja di sawah maupun kebun pepaya milik Abdullah. "Murid-murid kalau siang hari ditugasi mengelola sawah dan kebun milik keluarga kami," jelas Achmad Fathi.

Kesolehan dan ilmu yang mumpuni yang dimiliki Kiai Abdullah lama-lama tersiar ke seantero Tangerang. Itu sebabnya, Pemda Tangerang pada tahun 1973 memintanya untuk menjadi Wakil Ketua Pengadilan Agama Tengerang.

Namun sekalipun telah bekerja di pemerintahan, sikap sederhana dan rendah hati tetap melekat dalam diri Kiai Abdullah. Setiap bekerja ia hanya menggunakan sepeda ontel. Jarak antara rumahnya ke Pengadilan Agama Tangerang berjarak sekitar 10 kilometer.
"Kata bapak hidup sederhana dan apa adanya merupakan perintah Nabi Muhammad SAW. Karena itu selama hidup bapak tidak mau hidup secara berlebih-lebihan," jelas Abdul Zibaki, anak Kiai Abdullah Lainnya.
Selama hidup Kiai Abdullah memiliki tiga orang istri, yakni Rohani, Maswani, dan Romlah. Ia pertama menikah dengan Rohani, yang merupakan putri gurunya, KH Mursan, sekitar tahun 1945. Dari pernikahannya dengan Rohani, dikarunia dua orang anak. Namun tidak lama setelah melahirkan anak kedua, Rohani meninggal dunia.

Selang dua tahun kemudian Kiai Abdullah menikah lagi dengan Maswani, yang merupakan tetangga rumahnya. Dari Maswani, Kiai Abdullah dikaruniai 5 orang anak. Dan lagi-lagi istri keduanya ternyata pergi menghadap Sang Pencipta lebih dulu darinya. Maswani wafat tahun 1980.

Setelah kematian istri keduanya Kiai Abdullah sebenarnya tidak mau menikah lagi. Namun karena desakan anak-anaknya, ia akhirnya menikah dengan Romlah, warga tetangga Desa Juru Mudi. "Kami merasa kasian sama bapak karena tidak ada yang mengurusinya. Makanya kami mendesaknya untuk menikah lagi," tutur Mukhtar Ali, anak sulung Kiai Abdullah.

Namun dari pernikahannya dengan Romlah, Kiai Abdullah tidak dikaruniai anak hingga ia wafat pada 22 Oktober 1983. Kiai Abdullah meninggal dunia lantaran penyakit ginjal yang dideritanya. Sebelum meninggal ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Kiai Abdullah dimakamkan di belakang musala An-Najat berdasarkan wasiat yang disampaikannya kepada anaknya, Mukhtar sebelum meninggal. Sang kiai beralasan ingin dikubur di sana mengingat musala itu merupakan tempat perjuangannya pertama kali di dunia dakwah.

Mushala tempatnya pertama kali mengajar seakan menjadi kenangan sendiri bagi Abdullah. Meskipun ia sebenarnya juga telah mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang diberi nama Islahuddiniyah, sejak tahun 1970-an. Lokasi madrasah itu persis berada di depan rumah Kiai Abdullah.

Soal utuhnya jasad Kiai Abdulah setelah dikubur selama 26 tahun dikatakan salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Said Budairy sebagai karunia Allah. Menurutnya, jenazah itu dilindungi oleh Allah.
"Utuhnya jasad Kiai Abdulah setelah dikubur selama 26 tahun sebagai karunia Allah. Jenazah itu dilindungi oleh Allah." Ungkap salah seorang ketua MUI, Said Budairy.
"Kejadian seperti itu sudah sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Dan biasanya yang jasadnya seperti itu adalah orang-orang yang hafidz Alquran dan alim," jelasnya.

Ditambahkannya, untuk melihat kealiman si jenazah bisa dilihat dari perjalanan hidup almarhum. "Dan kalau seperti yang saya dengar kiai itu sebagai orang yang ahli ilmu, itu sudah tidak salah lagi. Berarti kiai itu dilindungi Allah di dalam kuburnya,"imbuhnya.

Sementara Agus Hendratno, anggota Ikatan Ahli Geologi Yogyakarta mengatakan, dari teori geologi, memang bisa saja jasad manusia yang dikubur akan tetap utuh.

Penyebabnya mungkin saja di dalam tanah itu tidak terdapat hewan organik yang bisa mengubah jasad manusia, seperti kulit dan daging menjadi tanah.

Menurut Agus, dalam peristiwa utuhnya jenazah Kiai Abdullah mungkin saja bisa disebabkan di liang lahat tidak terdapat hewan organik.

"Sebenarnya peristiwa utuhnya jenazah masuk lebih kepada urusan spiritual. Tapi kalau mau dikait-kaitkan ke dalam teori geologi, bisa saja di liang lahat itu tidak terdapat hewan organik," urainya.
Agus Hendratno, anggota Ikatan Ahli Geologi, berpendapat, peristiwa utuhnya jenazah Kiai Abdullah sangat unik dan di luar kebiasaan.
Tapi, kata Agus, bila lokasi tanah yang berair dan lembab seperti di wilayah Batu Ceper, yang dikenal dahulunya merupakan daerah rawa-rawa, teori itu terbantahkan. Dengan kata lain Agus berpendapat jika peristiwa utuhnya jenazah Kiai Abdullah sangat unik dan di luar kebiasaan. (PurWD/Dtk)