Tampilkan postingan dengan label Pandangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pandangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 April 2013

Model Pendidikan Agama di Masjidil Haram

Di Masjidilharam terdapat dua model pendidikan. Pertama yaitu pendidikan model halakoh, dimana semua santri mengelilingi gurunya. Masing-masing santri mendengarkan apa yang disampaikan oleh sang Guru (Syeh). Adapapun materinya, seperti; tafsir, hadis (bukhori, muslim, sunan tirmidzi), fikih usul fikih. Sebagian santri membawa kitab, dan sebagian lagi hanya pendengar setia. Biasanya, santri-santri yang belajar pada masayih di Masjidilharam berasal dari berbagai Negara, seperti; Indonesia, Malaysia, India, Pakistan, Afrika, dan sebagian lagi daratan Jazirah Arabiyah.

Ma'had Haram
            Pengajian model halakoh ini biasanya dilakukan setelah sholat Magrib, Ashar, dan Subuh. Sebagian ulama-ulama Indonesia yang terkenal dan besar di tanah suci melakukan cara seperti ini. Imam Nawawi al-Bantani, Syeh Muhammad Mahfud al-Turmusi, Syeh Muhammad Yasin Al-Fadani, Syeh Abdul Karim al-Banjari, Syeh Abdul Qodir Al-Mandili. 

Kendati mereka belajar dengan cara klasik, mereka juga belajar model pendidikan clasikal (Formal Education). Di Makkah, ada beberapa sekolah, seperti; Madrasah Darul Ulum al-Diniyah (didirikan oleh Syeh Mohammad Yasin al-Fadani), Madrasah Soulatiyah, Madrasal Al-Falah.

Beberapa halakoh yang masih berlangsung saat ialah, Halakoh yang di asuh langsung oleh Syeh Makky Al-Bakistani (di belakang Hijir Ismail). Setiap lepas sholat subuh, beliau mengajarkan dan menularkan ilmunya kepada santri-santr hingga waktu dhuha. Ada putranya Syeh Abdul Kadir Al-Mandili (Mandailing), Syeh Wasiuallah. Semua mengjarkan ilmu-ilmu agama, sebagaimana yang dilakukan pendahulunya.

Ma’had al-Haram dan Halakoh Masjidilharam.

Sebagian santri yang mengikuti halakoh, ternyata banyak juga yang ikut serta dalam pendidikan formal, di Ma’had Al-Haram. Ma’had ini termasuk pendidikan formal, letaknya di pintu Malik Fahad bin Abdul Aziz. Pelajar-pelajar dari berbagai negara seperi; Indonesia, Afrika, India, Pakistan, Thailand, Malaysia diterima belajar di sana. Bahkan, tidak sedikit dari warga Negara Arab Saudi sendiri yang ikut belajar di Ma’had al-Haram. Tentunya setelah melalui seleksi yang ketat serta mengikuti aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh kerajaan. Pelajar-pelajarnya juga mendapat bantuan (beasiswa) setiap bulan dari pemerintah. Materi yang di ajarkan adalah ilmu hadis, seperti; Bukhori, Muslim agama, karena tujuan utamanya ialah melestarikan nilai al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad Saw serta kitab-kitab klasik (turost).

Pada setiap pintu utama Masjidilharam, seperti; Abdul Aziz, Malik Fahad, Babu al-Salam, Bab al-Fattah, Bab al-Umrah. Di pelataran Masjidilharam, seperti; lurusnya Hijir Ismail, Rukun Yamani, biasanya menjadi tempat halakoh (pengajian rutin) setiap lepas sholat magrib dan subuh. Jadi, hampir semua kegiatan pengajian di Masjidilharam terus menerus. Pada abad 16-17 hingga abad 20-an, masih banyak ulama keturunan Indonesua yang mengajar di Masjidilharam. Tetapi, saat ini sudah langka. Kendati keturunan Indonesia sudah langka, tetapi kegiatan melestarikan al-Qur’an dan sunnah Nabi Saw melalui pengajian-pengajian masih berjalan dengan baik dan lancar. Ini juga menjadi bukti nyata, bahwa Makkah menjadi pusat kajian ilmu agama dari masa kemasa.

Makkah Pusat Ilmu Agama

Makkah merupakan pusat ilmu agama. Semua ilmu agama bersumber dari al-Qur’an dan Hadis. Sedangkan keduanya berasal dari Makkah. Nabi SAW. membangun keyakinan dan ketauhidan di Makkah dalam kurun waktu 13 tahun. Beliau berjuang siang dan malam agar aqidah uluhiyah dan rububiyah tertanam kuat pada sahabatnya. Para ulama Mujtahidin, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Syafi’i dan Ibnu Hanbal, Ibnu Qayyim, Imam Nawawi, Ibnu Hajar al-Haitami, Ibnu Hajar al-Asqalani serta banyak lagi ulama’ besar lainnya, pernah mengenyam pendidikan di Makkah dan tabarrukan terhadap Baitullah di Tanah Suci Makkah.
santri


Seiring dengan kemajuan zaman, eksistensi Makkah semakin maju dan berkembang. Baik dalam bidang teknologi, ekonomi atau pendidikan. Pemerintah Arab Saudi menjadikan Makkah seperti dahulu, yaitu menjadi pusat pendidikan agama. Kepedualian pemerintah Saudi bisa dilihat dari aktivitas Masjidil Haram. Setiap sholat ashar, magrib dan shubuh terjadwal rapi. Berbagai bidang ilmu agama, seperti ilmu tafsir dan hadits, dan fiqh diajarkan. Para pengajarnya sangat kompeten dan profesional sesuai dengan bidangnya, termasuk para Imam Masjidil Haram serta ulama’-ulama’ dan doktor-doktor yang tidak diragukan lagi kemampuan pengetahuan agamanya.

Di pintu Malik Fahad bin Abdul Aziz juga terdapat lembaga pendidikan formal yang disebut dengan Ma’had Haram. Pelajar-pelajar dari berbagai negara seperi Indonesia, Afrika, India, Pakistan, diterima belajar di sana. Tentunya setelah melalui seleksi yang ketat serta mengikuti aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh kerajaan. Pelajar-pelajarnya juga mendapat bantuan (beasiswa) setiap bulan dari pemerintah.
Di tempat lain, yaitu di Rusaifah, terdapat lembaga pendidikan non-formal yang didirikan oleh almarhum Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Kebanyakan muridnya berasal dari Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Sayyid Muhammad terkenal dengan ilmu haditsnya, sehingga banyak dari karya-karyanya mengupas tuntas seputar hadits dan Sirah Nabawiyah, seperti Muhammad Insan Al-Kamil, Khasois Ummat Muhammadiyah, al-Manhal al-Latif.

Murid atau santri-santri Abuya -pangilan akrab Sayyid Muhammad- dibagi dua. Pertama, tinggal di komplek yang telah disediakan. Semua kebutuhan hidupnya dibiayai oleh Sayyid Muhammad Alawi al-Maliky al-Marhum. Mereka juga seringkali mendapatkan tunjangan berupa uang setiap bulan sekali, kadangkala dua bulan sampai tiga bulan. Kedua, santri yang tinggal di luar komplek. Mereka sebagian besar bermukim di Rubat Jawi Hasyim yang terletak di Misfalah. Sebagian lagi menyebar di sekitar Masjidil Haram. Mereka mengikuti pengajian yang dipimpin langsung oleh Sayid Muhammad Alawi al-Maliki setelah Maghrib. Sedangkan setelah sholat Isya’ dilanjutkan oleh Syeh Jabir, serta para Masayikh yang telah mendapatkan restu dari Sayyid Muhammad.

Setelah sekian lama mengajar dan menjadi rujukan santri, pada tahun 2005 -tepatnya bulan Romadhan, hari Jum’at- beliau wafat. Sepeninggal beliau, putranya Sayyid Ahmad bin Muhammad secara resmi dibai’at menjadi penggantinya. Pengajian yang diasuh oleh Sayyid Muhammad masih berjalan lancar seperti biasa di bawah bimbingan Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi.

Tidak jauh dari tempat beliau, ada ulama yang bernama Syekh Muhammad bin Ismail. Beliau mempunyai halaqah pengajian setiap hari. Muridnya mayoritas berasal dari Indonesia, khususnya dari daerah pulau garam Madura, Lombok serta sebagian Jawa dan luar Jawa. Pada bulan Ramadhan juga membuka pengajian umum. Biasanya mengkaji kitab-kitab klasik, seperti Bahjatun Nufus, Shohih Bukhori dan Shohih Muslim. Para santri tekun mengikuti pengajian yang diasuh langsung oleh Syeh Muhamad Ismail.

Di dekat Masjidil Haram terdapat sekolah yang mengajarkan ilmu-ilmu agama. Sekolah ini bersifat formal, bahkan lulusannya bisa melanjutkan ke Universitas al-Azhar Mesir. Sekolah ini dikenal dengan nama Madrasah Shalatiyah. Murid-muridnya banyak dari muwallad (sebutan orang yang lahir di Makkah). Baik dari Asia, India, Pakistan, Bangladesh, Syiria, Mesir, Sudan atau Afrika. Adapun murid yang berasal dari Indonesia didominasi dari Lombok, Madura, dan Jawa. Madrasah ini memakai bahasa Arab. Staf pengajarannya juga mempunyai kompetensi keilmuan di bidangnya. Mereka banyak dari doktor-doktor Umm al-Qura University, Pakistan dan Mesir.

Di Makkah juga terdapat universitas yang dikenal dengan nama Umm al-Qura. Universitas ini satu-satunya lembaga pendidikan tinggi formal pemerintah. Letaknya di daerah al-Aziziyah. Dan mulai dibuka kampus baru di daerah al-Abidiyah (dekat Arafah). Lembaga ini mengajarkan berbagai macam disiplin ilmu, mulai dari ilmu Ushuludin sampai ilmu eksakta (Kedokteran, Fisika, Biologi). Para pengajar di Universitas Umm al-Qura adalah Imam-imam Masjidil Haram, seperti Syeh Dr. Abdurahman Sudais, Syeh Dr. Ibrahim Suraim, Syeh Subail, dan lain-lain.

Mahasiswa yang menuntut ilmu di Umm al-Qura berasal dari berbagai negara di dunia. Mereka mendapatkan beasiswa, asrama, serta subsidi makan tiga kali sehari. Bagi mahasiswa asing, setiap masa liburan, kampus memberikan visa dan tiket gratis guna liburan di negaranya masing-masing. Setiap tahun Universitas ini menerima mahasiswa baru sekitar 30-70 orang yang berasal dari Asia, Amerika, India, Australia, Afrika. Biasanya Indonesia mendapat empat bagian dari jumlah tersebut. Walaupun ahkir-akhir ini jumlah mahasiswa tidak sebanyak tahun-tahun lalu, namun pemerintah Saudi tetap memberikan kesempatan bagi putra-putri bangsa Indonesia untuk menuntut ilmu.

Dari masa ke masa, mahasiswa mengalami berbagai perubahan. Di era awal, mahasiwa Indonesia sangat aktif dalam memburu ilmu agama, mulai dari belajar di Masjidil haram sampai halaqah-halaqah ulama. Ketika musim haji tiba, mereka ikut serta menjadi pembimbing (mursyid/guide) jama’ah haji. Sebagian besar terjun di ONH khusus. Ada juga yang tidak berkehendak memburu ilmu di halaqah-halaqah di Masjidil Haram. Mereka lebih suka belajar di kampus. Sedangkan pada bulan Ramadhon dan musim haji mereka sempatkan menjadi guide jama’ah umrah dan haji. Ini sudah menjadi fenomena  yang tidak asing lagi. Bahkan ada juga yang memanfaatkan waktunya selama di Makkah hanya untuk menjadi guide.

Selain itu, komunitas orang Indonesia yang tinggal di Makkah juga mempunyai lembaga pendidikan formal yang dikenal dengan Sekolah Indonesia Makkah (SIM). Berdirinya sekolah ini dulunya diawali dengan adanya Yayasan Al-Ma’arif sebagai cikal bakal sekolah. Berdirinya Sekolah Indonesia Makkah tidak luput dari kegigihan almarhum Bapak Baharuddin Lopa,[1] serta Ir. Fuad Abdul Wahab[2], juga perjuangan warga Indonesia yang bermukim di Makkah. Pemukim-pemukim yang memiliki kemampuan mengajar dan berijasah S1 juga ikut mengajar di sekolah ini, sehingga dapat dikatakan sekolah Indonesia Makkah pada saat ini sudah mulai eksis. Seiring dengan berjalannya waktu, sekolah ini mulai banyak dikenal oleh masyarakat luas sehingga tidak menutup kemungkinan sekolah ini akan menjadi sekolah unggulan.

Sistem sekolah yang baru berdiri ini masih merujuk pada pendidikan di Indonesia di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional. Proses belajar mengajar juga mengunakan bahasa Indonesia, walaupun setelah maghrib ditambah dengan tahfizhul Qur’an. Sekolah Indonesia Makkah juga mendapat perhatian luas dari masyarakat dan pemerintah Indonesia. Sekolah ini masih terus berbenah untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan. Para pendiri juga berharap sekolah Indonesia ini bisa ikut berpartisipasi pada pendidikan nasional

[1].Saat itu, beliau menjabat sebagai duta Besar RI, beliau tidak hanya menyumbang moral, tetapi beliau juga menyumbang vinansial demi terwujudnya SIM.
[2].Beliau adalah warga Indonesia Asli, ia menekuni usaha pengiriman barang yang terkenal dengan “Amir Cargo”. Beliau juga aktif dalam organisasi sosial kemasyarakatan, seperti; NU, ICMI, FORMIDA (Forum Masyarkat Jeddah). Bahkan beiau menjadi ketua Tanfizdyah NU Cabang Istimewa Arab Saudi. Beliau juga menjadi rujukan warga NU yang bermukim di Arab Saudi. Kontribusi beliau sangat besar terhadap pertumbuhan serta pendidikan yang ada di Makkah dan Jedah, baik yang formal atau Non Formal.

http://wisatahaji.com/makkah-pusat-ilmu-agama/

Kamis, 25 April 2013

Lakpesdam Mesir Bedah Pemikiran Yasin al-Fadani

Kairo, NU Online
 
Lakpesdam Mesir kembali menggelar “Kongkow Ramadlan Lakpesdam Mesir” untuk memdedah pemikiran Seikh Muhamad Yasin al-Fadani. Pemateri kali ini adalah M. Nora Burhanudin, anggota kajian Lakpesdam Mesir sekaligus koord. Ghazalian Center, dan Ronny G. Brahmantyo, aktivis Lakpesdam dan Mizan Study Club. Acara ini dimoderatori oleh Abdul Mun’im Kholil, anggota Lakpesdam.

Mengawali acara, Abdul Mun’im sebagai moderator sore itu mengatakan, Seikh Yasin al-Fadani adalah seorang alim kaliber dunia yang memiliki sumbangsih melimpah bagi keilmuan Islam, khususnya dalam upaya melestarikan tradisi pakar hadist dalam berburu sanad ‘ali (sanad tertinggi).

"Karenanya, Beliau dijuluki sebagai musnid al-dunya (pakar sanad sejagat). Yasin al-Fadani berhasil menjadi muara sanad hadist dan disiplin ilmu lainnya masa itu," tutur Nora, akhir pekan kemarin.

Narasumber pertama, M. Nora Burhanudin, mengawali pembukaannya dengan pernyataan, “al-Fadani memang layak menyandang gelar Musnid al-Dunya 'ala al-ithlaq (pakar sanad sedunia yang tak tertandingi) . Mungkin gelar itu terdengar berlebihan di mata orang Indonesia. Tapi bagi orang Arab, apalagi yang mengetahui ilmu hadits, itu biasa saja, tak berlebihan. Paparnya, menurut beberapa kawan  Syeikh Yasin al-Fadani bukan ahli hadits, tapi  hanya musnid. Namun pendapat ini kurang tepat karena gelar Musnid mengalami perkembangan makna; zaman dulu: tahu periwayatan hadist saja, tanpa tahu dirayah (kecakapan mengenai hadist).  Namun musnid masa kini lebih umum dari sekedar itu.


M. Nora kemudian memferivikasi beberapa terma yang acapkali dipakai dalam dunia hadist. Syarat menjadi Muhaddits menurut al-Subki: harus menelaah seribu juz kitab hadits, mendengarnya dari para muhadditsin, memiliki catatan-catatan hadits yang ia dengar, dan selalu ia koreksi catatan itu, dan masih banyak lagi. Dalam konteks sekarang, sulit menemui pakar hadits seperti ini. Sehingga gelar muhaddits zaman sekarang lebih cenderung sebagai tabarruk.

Dalam konteks ini al-Fadani bisa masuk kategori muhaddist. Pasalnya beliau pernah mendengar langsung dari Seikh Ahmad bin Muhamad al-Shiddiq al-Ghummari yang sampai pada derajat al-Hafidz, dan banyak kalangan berasumsi bahwa al-Ghummari adalah orang paling akhir bergelar Hafidz. Yang menarik di sini, ternyata Imam al-Suyuthi sendiri belum bisa disebut muhaddist karena hanya menghafal dari kitab, bukan dari sama'(mendengar langsung dari guru)—menurut beliau.

Dulu, ada sebuah fenomena unik dalam doktrin ilmu hadist: bila ada seorang mendengar hadist kemudian dicatat dan bukan dihafal maka itu dianggap aib. Namun setelah masa tadwin, sekitar 500 H, yang dibuat pegangan dalam riwayat hadits adalah kitab-kitab. Termasuk diantaranya Al-Bukhari. Ia menulis dalam bukunya “Saya menghafal 300.000 hadits shahih. Tapi yang saya tulis dalam Jami' al-Shahih hanya 100.000 saja”.

Setelah sedikit mengupas tentang tradisi di kalangan pakar hadist. Ia kemudian kembali mengindetifikasi kepakaran al-Fadani dalam hadist: apakah al-Fadani masuk kategori muhaddits ataukah musnid? “Saya sepakat beliau disebut muhaddits sekaligus musnid” ungkap Nora tegas. Terbukti dengan syarah-nya terhadap buku Sunan Abi Dawud, yang sebanyak 20 jilid. Dengan pertimbangan  Sunan Abi Dawud yang memuat hadist-hadist hukum. Tentunya untuk mengomentari sunan Abu dawud butuh kepakaran tertentu dalam banyak bidang ilmu.

Sekedar tambahan data, bahwa al-Rafi'i berpendapat: orang bisa jadi mujtahid cukup dengan mendalami Sunan Abu Dawud. Meski kemudian pendapat ini dibantah oleh al-Nawawi, karena hadits-hadist ahkam tak hanya ada di Sunan Abu Dawud. Khilaf kedua tokoh ini bukan poinnya, melainkan ini menunjukkan bahwa Sunan Abi Dawud memiliki kedudukan cukup tinggi dalam bidang hadits al-ahkam. Artinya, jika bukan seorang fakih Al-Fadani tak mungkin mampu men¬syarahinya.

Untuk mengenal lebih dekat sosok al-Fadani tak cukup hanya mengacu pada kepakaran hadistnya saja tapi juga pada isnad. Karena dari 100 bukunya, 60 diantaranya berkaitan dengan isnad.

Setelah M. Nora Burhanudin mengurai penjelasannya panjang lebar, Abdul Mun’im Kholil selaku moderator memberikan waktu kepada Rony G. Brahmantyo sebagai narasumber kedua untuk menambahkan penjelasan terkait  Seikh Muhamad Yasin al-Fadani dan sumbangsih pemikirannya kepada generasi Islam-Nusantara.

Di awal penjelasan, Ronny memberikan info tambahan terkait Yasin Padang. Gelar musnid al-dunya tak didapat hanya karena banyaknya guru, yang kabarnya sampai 700 itu. Tapi lebih pada kepakarannya dalam bidang yang ia geluti. Merujuk pada Seikh Mahmud Said Mamduh, salah seorang murid beliau, al-Fadani juga kerapkali menerima permintaan fatwa. Itu artinya, tokoh ini tak hanya pakar dalam isnad tapi juga ilmu syariat lainnya.

Masih menurut Seikh Mamduh, al-Fadani memang sosok ulama yang sangat tawadlu’. Karyanya mengenai ushul fiqh, Syarh al-Luma’ 2 jilid tebal, terpaksa tak jadi dicetak gara-gara guru beliau , Seikh Yahya Aman, sudah terlebih dahulu mengirim naskah yang sama ke percetakaan. Beliau berkaca pada kasus sebelumnya, saat mencetak Hasyiyah al-Taisir miliknya, yang ternyata membuat karya serupa Seikh Yahya Aman tak laku di pasaran.

“Adapun mengenai buku Syarh Sunan Abu Daud yang masih dalam bentuk manuskrip dan tak kunjung nongol di toko-toko buku, disebabkan beberapa jilid I, III & XIII raib saat pindah rumah,” ungkap Rony menukil pengakuan Seikh Mamduh.

“Selanjutnya, saya akan fokus ke tahun 1305 H di Mekkah, di mana al-Fadani lahir. Ia berkewarganegaraan Saudi Arabia, bukan Indonesia, meski ia keturunan Indonesia. Beliau hidup di Saudi ketika hegemoni Wahhabiyah mencengkeram kuat.” Rony melanjutkan pemaparannya.

Kemudian ia masuk madrasah Shaulatiyah. Ia mulai membaca Jam'ul Jawami' dll. Ada kisah menarik, di mana al-Fadani pernah keluar dari Shaulatiyah, gara-gara ada seorang guru yang menyobek koran berbahasa melayu, sekitar 1928. Darah nasionalismenya naik dan beliau memutuskan keluar untuk kemudian mendirikan Madrasah Darul 'Ulum.

Sayid Segaf bin Muhamad Al-Segaf, seorang tokoh terkenal di Hadramaut Yaman, pernah menyebut al-Fadani sebagai Imam Suyuthi masa kini. Karena karya-karya beliau yang mencapai 100 lebih dalam beragam kajian ilmu Islam.

Syeikh Yasin al-Fadani termasuk guru Syeikh 'Ali Jum'ah, Mufti Mesir saat ini. Ketika menjadi editor (muhaqqiq) buku Jauharat al-Tauhid, Seikh Ali Jum’ah sempat menyebut sanad yang bersambung pada  Syeikh Yasin al-Fadani. Al-Fadani  juga termasuk murid Kiai Hasyim Asy'ari, pendiri NU. Meski tidak secara langsung.

Al-Fadani termasuk sosok ulama kharismatik yang cukup bersahaja “Kadang ketika mengajar beliau hanya memakai sarung dan kaos oblong saja” Ungkap Rony antusias. “Nafas beliau adalah belajar dan mencari sanad.” tambah Rony.

Menurut Rony, Syeikh Al-Fadani adalah orang yang paling canggih menggabungkan antara 4 elemen seperti diungkap Umberto Eco. Ia terbelakang dalam ekonomi, ia hanya fokus mencari ilmu.

Meski al-Fadani warga Mekkah tapi tetap menyandangkan nama marganya, al-Fadani. Ini menunjukkan bahwa nasionalisme al-Fadani tak luntur. Meski begitu al-Fadani akan terlihat polos jika diajak bicara politik. Terbukti saat muktamar NU, sekitar tahun 70-an, di Indonesia. Al-Fadani hanya diam kaku.

Akibat cara hidup tradisional-agamis dan hanya diapresiasi oleh kalangan tradisional. Maka ia lebih dikenal dengan kharismanya sebagai musnid al-dunya, bukan keilmuannya.



Redaktur     : Syaifullah Amin
Kontributor : Munim

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,33630-lang,id-c,warta-t,Lakpesdam+Mesir+Bedah+Pemikiran+Yasin+al+Fadani-.phpx 

Rabu, 24 April 2013

Menjaga Warisan Ulama


Tribun Timur - Jumat, 29 Juni 2012 21:05 WITA

Drs_AGH_Muh_Harisah_AS.JPG



Kontribusi terbesar AGH Muhammad Nur adalah kemampuannya memelihara tradisi keilmuan ulama. Tanggung jawabnya sebagai pemegang sanad hadis nabi yang diwarisi dari sejumlah ulama besar di Haramaian itu, senantiasa dipelihara dengan memberi pengajian kitab kuning hingga menjelang akhir hayatnya.

Merayakan haul ulama menjadi tradisi pesantren untuk mengenang sosok ulama diiringi doa dari santri kepada gurunya. Tradisi ini yang hendak dipelihara sehingga para santri dan ulama serta jamaah di Kota Makassar menggelar haul setahun berpulangnya ke rahmatullah seorang ulama besar, Anre Gurutta Haji (AGH) Al-allamah Nashirus Sunnah, Muhammad Nur.

Ulama ahli hadis itu wafat pada tanggal 29/6/2011, bertepatan 27 Rajab 1432 H bertepatan Isra’ Mi’raj, tahun lalu. Sosok keulamaan AGH Muhammad Nur telah banyak mewarnai tradisi keilmuan kaum pesantren perkotaan melalui Ma`had Dirasatil Islamiyah wal Arabiyah (MDIA) yang didirikannya. Haul 1 tahun diperingati pada Jumat, 29 Juni 2012 di Masjid Taqwa Jl Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

AGH Muhammad Nur dilahirkan 7 Desember 1932 di desa Langkean Maros, tercatat sebagai tokoh kharismatik NU Sulsel yang sepanjang hayatnya berkiprah dalam tradisi keilmuan pesantren. Kecintaanya terhadap ilmu-ilmu keislaman ditandai rihlah ilmiah yang dilakukannya sejak tahun 1947 sampai 1958 dengan memilih mukim di Mekkah untuk menuntut ilmu pada sejumlah ulama hingga menerima sanad hadis yang bersambung langsung dengan Nabi.

Jenjang pendidikannya di Mekkah dimulai dengan menghafal Al Quran hingga 30 juz di Madrasah Ulumul Qur’an, Mekkah diselesaikan tahun 1375 Hijriah. Kemudian melanjutkan pendidikan di Madrasah Fakhriyah Usmaniyah dan Madrasah Darul Ulum Ad-Diniyah tahun 1958 dengan memperoleh gelar Asy-Syekh Fadhil dan mendapat sertifikat untuk mengajar di almamaternya, Madrasah Darul Ulum Ad-Diniyah, Mekkah.    

Keilmuannya sangat menonjol di bidang hadis, meski keilmuannya di bidang lainpun sangat dikuasainya seperti tafsir, fikih, tauhid, ushul fiqhi hingga tasawuf. Dalam bidang hadis berhasil memperoleh sanad hadis yang bersambung hingga rasulullah.

Ilmu Hadis

Ijazah silsilah hadis diperoleh dari sejumlah ulama Mekkah, tempatnya mengaji mendalami hadis di antaranya melalui; Asy-Syekh Hasan Al-Yamani, Asy-Syekh Sayyid Muhammad Amin Al-Kutuby, Asy-Syekh Alwi Abbas Al-Maliky, Asy-Syekh Ali Al-Maghriby Al-Maliky, Asy-Syekh Hasan Al-Masyath dan As-Syekh Alimuddin Muhammad Yasin Al-Fadany. Dari jalur ijazah silsilah ini kemudian diberi gelar Al-Allamah Al-Jalil KH. Muhammad Nur Al-Bugisy.

Basis keilmuannya di bidang hadis, juga mengantarkannya mendapatkan gelar bergensi sebagai pakar ilmu hadis yang diperoleh setelah menyelesaikan pendidikan di Mekkah. Gelar keilmuan yang diperolehnya adalah Al-Allamah Nashirusunnah yang berarti pembela sunnah nabi yang mendapat pengakuan sejumlah ulama, pemberian gelar tersebut menguatkan bahwa AGH. Muhammad Nur seorang ulama besar yang kapasitas keilmuannya diakui sejumlah ulama Mekkah.

Sejak pulang dari Mekkah dan bermukim di Makassar, AGH Muhammad Nur kemudian berkiprah di bidang pendidikan agama dengan merintis pengajian kitab kuning sejak akhir tahun 1950-an. Salah satu lembaga pendidikan Islam yang berhasil dirintisnya dan melahirkan sejumlah ulama dan cendekiawan muslim, yakni Yayasan Pendidikan Taqwa yang menaungi Pesantren MDIA Taqwa hingga akhir hayatnya.

Beberapa tokoh besar, ulama, cendekiawan pernah mengecap ilmunya. Sebut di antaranya, Prof Dr Alwi Shihab, MA (mantan menteri luar negeri RI), Prof  Dr Sayyid Aqiel Al-Mahdaly (Rektor Universitas Kedah Malaysia, Prof  Dr Nasaruddin Umar MA, (Wakil Menteri Kementerian Agama RI), Prof Dr Muhammadiyah Amin MA. (Rektor STAIN Gorontalo), dan lain-lain.

Sementara itu, sejumlah ulama yang turut menimbah keberkahan ilmunya yang sangat luas. Sebagai salah seorang murid AGH. Muh. Nur, telah merasakan keluasan ilmunya. Pertama kali berhubungan dengan beliau setelah mendapat pesan dari Imam Cenrana, Bone saat menuju Makassar untuk melanjutkan studi di IAIN Alauddin, diminta berguru kepada AGH Muh Nur dan AGH Abdul Kadir Khalid. Selama mengikuti pengajian selama 40 tahun, sejak 1969 hingga 2009, beliau telah mengajarkan banyak bidang keilmuan terutama pada bidang tafsir dan hadis.

Membina Pesantren 

Suatu ketika, beliau pernah berpesan agar saya tidak meninggalkan Makassar setelah selesai dari IAIN tahun 1978, tetapi diminta membina pesantren sebagai benteng ajaran ahlussunnah waljamaah. Pesan itulah yang melatari saya mendirikan Pesantren An-Nahdlah dengan mengutamakan pengajian kitab kuning sejak 1982 hingga kini.

Sejumlah murid lainnya telah berkiprah di berbagai tempat yang tentunya masih menjaga tradisi keilmuan Gurutta. Bahkan salah seorang muridnya memberi gelar guru besar (professor) dan Doktor dianugerahkan tahun 2010 oleh rektor Universitas Insani Kedah Malaysia, Prof Dr Sayyid Aqiel al-Mahdaly yang juga muridnya dari MDIA Taqwa Makassar. Pemberian gelar DR honoris causa (HC) tersebut merupakan penghargaan keilmuannya sekaligus penghormatan sang murid terhadap gurunya.

Kontribusi terbesar AGH Muhammad Nur adalah kemampuannya memelihara tradisi keilmuan ulama. Tanggung jawabnya sebagai pemegang sanad hadis nabi yang diwarisi dari sejumlah ulama besar di Haramaian itu, senantiasa dipelihara dengan memberi pengajian kitab kuning hingga menjelang akhir hayatnya. Selain aktif membina pengajian, beliau terlibat pada sejumlah organisasi diantaranya NU. Pengabdian di NU cukup besar, selain juga pernah berkiprah di politik dengan menjadi anggota DPRD Provinsi Sulsel di era kejayaan Orde Baru.

Peran keulamaanya tercermin dari kadalaman ilmunya yang menguasai pelbagai bidang keilmuan, terutama hadis, sehingga menjadi tumpuan umat dalam menghadapi pelbagai permasalahan yang dihadapinya. Dalam tradisi keilmuan di Sulsel, keberadaan ulama, to panrita, sangat mewarnai dinamika keagamaan masyarakat yang dikenal pecinta ulama.

Sejumlah ulama kharismatik lulusan haramain mewariskan keilmuannya melalui pesantren yang dibinanya. Menelusuri jaringan keilmuan ulama di Sulsel melalui pesantren sangat penting membangun kesadaran keagamaan masyarakat. Hal lebih penting, justru karena masing-masing ulama besar di Sulsel memiliki pokok-pokok ajaran yang sama, mengusung ajaran Ahlussunnah waljam’ah sehingga hampir tidak terjadi benturan pemikiran.    

Selain AGH. Muh. Nur, sejumlah ulama Sulsel membina pengajian kitab kuning. Posisi sentral AGH. Muhammad As’ad pendiri Pesantren As’adiyah Sengkang Wajo, menjadi Hadratus Syekh atau maha guru ulama-ulama Sulsel merupakan ulama pengusung ahlussunnah waljama’ah yang diwarisi sejumlah murid-muridnya.

Sementara AGH Muhammad Nur masih sempat berguru di Mekkah pada sejumlah ulama besar yang juga gurunya AGH Muhammad As’ad. Menelusuri hubungan keilmuan ulama-ulama Sulsel akan mempertemukan hubungan guru murid yang berkesinambungan dengan pokok ajaran aswaja. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap pemahaman dan pengalaman keagamaan masyarakat di Sulsel.

Kini, setahun berpulangnya Al-Allamah Nashirus Sunnah AGH Muhammad Nur menjadi momentum bagi masyarakat Sulsel senantiasa menjaga tradisi keilmuan pesantren yang diwariskan para ulama. Seorang ulama tidak sebanding dengan seribu orang tidak berilmu. Apalagi umat sekarang menghadapi berbagai persoalan keagamaan merindukan sosok ulama Mengenang haul setahun wafatnya AGH Muhammad Nur yang telah mewariskan keilmuannya senantiasa dipelihara oleh murid-muridnya untuk menjaga kesinambungan tradisi keilmuan melalui mata rantai hubungan guru-murid. Hal inilah yang patut dibanggakan dari anregurutta karena berhasil mencetak sejumlah ulama dan cendekiawan muslim yang berkiprah demi kemaslahatan umat. Semoga warisan keilmuanmu terpelihara pada mereka yang telah meneguk hikmah dan berkah keilmuannya. Wallahul hadi ilassiratil mustaqim.***

Oleh;
Drs AGH Muh Harisah AS
Pimpinan Pesantren An-Nahdlah Makassar

Editor : Aldy
Sumber : Tribun Timur